SEMARANG, SENIN — Anjloknya harga komoditas perkebunan di pasar internasional akibat krisis keuangan global diperkirakan akan menurunkan pertumbuhan keuntungan PT Perkebunan Nusantara IX hingga 50 persen pada tahun 2009.
Antisipasi dilakukan dengan mengalihkan ekspor dari Amerika Serikat ke China, India, serta Uni Emirat Arab. Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara IX Jawa Tengah S Hartoyo, di Bawen, Kabupaten Semarang, Senin (22/12), mengutarakan, pada tahun 2008, PT PN IX masih bisa tumbuh tujuh persen dengan keuntungan Rp 120 miliar, meski sudah mulai terimbas krisis keuangan global.
Namun, penurunan pertumbuhan tahun 2009 tidak dapat dihindari karena hampir semua komoditas unggulan PT PN yang 65 persen untuk ekspor harganya anjlok. Sebagai contoh, karet kualitas rubber smoke sheet (karet kualitas satu), harganya anjlok dari 3 dollar Amerika Serikat (AS) per kilogram, menjadi 1,25 dollar AS per kilogram.
Padahal, harga keekonomiannya 1,6 dollar AS per kilogram. Harga kopi turun dari 2,2 dollar AS menjadi 1,7 dollar AS per kilogram. Komoditas yang relatif stabil hanya teh, di kisaran 1,4 dollar AS per kilogram.
"Kami mencoba menekan agar biaya produksi bisa turun sehingga dengan harga itu pun kami masih bisa untung. Harga karet yang pada kondisi normal nilai keekonomiannya 1,6 dollar AS akan coba ditekan lagi dengan meningkatkan kualitas dan produktivitas, termasuk efisiensi," katanya seusai penyaluran Pinjaman Program Kemitraan dan Penyerahan Bantuan Program Bina Lingkungan di Kampung Kopi Banaran.
