JAKARTA, SENIN — Di tengah krisis keuangan dunia yang juga berimbas pada perekonomian Indonesia, Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono meminta masyarakat untuk tidak panik dalam menghadapi dan mengatasinya. Permintaan ini disampaikan Presiden dalam peringatan Hari Ibu ke-80 secara nasional di Jakarta Convention Center, Senin (22/12).
"Saya mengajak, saya meminta jangan panik. Kita tidak boleh panik. Kita harus meyakinkan diri. Semua itu bisa kita atasi. Masa sulit bisa kita lampaui," tutur Presiden Yudhoyono. Menurut Presiden, kunci untuk bisa mengatasi krisis diperkirakan berlangsung selama dua tahun ini adalah kerja sama pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat luas.
Pemerintah pusat dan daerah akan berusaha maksimal untuk menghasilkan kebijakan dan memberikan insentif yang tepat. Dunia usaha dan masyarakat diharapkan lebih bersemangat dalam menjalankan ekonomi kreatif seperti yang dicanangkan Presiden Yudhoyono untuk tahun 2009 dengan memanfaatkan nilai-nilai budaya dan lokal yang unggul. "Ke depan kita lebih bersatu, melangkah bersama, bekerja lebih kuat, bersama-sama. Berkontribusilah dan beri sumbangan apa saja yang dapat menyelamatkan perekonomian kita dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi kita," tandas Presiden Yudhoyono.
Kerja sama dalam krisis yang harus dikembangkan oleh stake holder bangsa ini tentunya, menurut Presiden Yudhoyono, berfokus kepada sektor riil dan pada pemenuhan kesejahteraan rakyat. Presiden Yudhoyono memuji juga gerakan sejumlah perempuan yang telah dilakukan selama ini dalam diversifikasi pangan, penghematan energi, ekonomi kreatif, dan penanaman pohon.
Namun, sekali lagi SBY mengingatkan bahwa krisis belum usai bahkan diperkirakan akan terus berlanjut hingga dua tahun. "Krisis belum usai, badai belum berlalu. Jangan lelah, jangan lalai. Kita masih harus terus berusaha dengan gigih. Pemerintah tetap akan berdiri di depan dan akan memimpin," janji Presiden.
