JAKARTA, SABTU — Harga pasar bahan bakar minyak (BBM) senilai Rp 5.000 pascapenurunan sebanyak dua kali masih dinilai mahal. Harga BBM seharusnya bisa lebih murah, bahkan menyentuh angka Rp 2.500-Rp 3.000 per liter.
Hal ini diungkapkan pengamat ekonomi Ichsanuddin Noersi dalam diskusi polemik yang bertajuk "Harga BBM Turun, Antara Politis dan Realistis" bertempat di Warung Daun Pakubuwono, Jakarta, Sabtu (20/12).
Pria yang akrab dipanggil Noersi ini mengaku melihat harga yang mungkin dipasang pemerintah terhadap BBM berdasarkan dua pendekatan yakni pendekatan produksi dalam negeri dan impor. Dua pendekatan ini ditelusuri melalui struktur biaya proses produksi dari hulu ke hilir.
Dalam pendekatan produksi dalam negeri, dengan asumsi harga minyak dunia 40 dollar AS per barrel maka BBM, dalam hal ini premium, yang diproduksi di dalam negeri dapat dibandrol di harga Rp 2.500.
"Asal saja nilai tukar rupiah bisa ditekan hingga Rp 9.200," tutur Noersi.
Dengan strategi pembagian porsi produksi minyak dalam negeri dan impor yang disusun rapi, BBM seharusnya bisa dijual dalam angka Rp 2.500-Rp 3.000. Namun sayangnya, strategi tersebut tak dijalankan pemerintah.
Noersi mengatakan, dari total kebutuhan 1.2 juta barrel, sekitar 700.000 barrel dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri, sementara sisanya dari impor. "Dengan demikian didapat harga blending rata-rata cuma sekitar Rp 3.000," tandas Noersi.
Dengan harga yang ditetapkan sekarang, Noersi khawatir uang dalam jumlah sangat besar yang diraup oleh Pertamina menjadi peluang untuk membiayai kegiatan politik pihak-pihak tertentu. Noersi juga menyayangkan struktur pembiayaan migas yang masih tidak jelas di APBN 2009.
Struktur pembiayaan produksi di hulu dinilai abu-abu. "Bagaimana mau tentukan biaya hilir? Di mana logika ekonominya pemerintah ini?" tanya Noersi.
