SLAWI, JUMAT- Memasuki musim tanam, sejumlah petani di Kabupaten Tegal mulai menjual persediaan gabah yang mereka miliki untuk modal usaha. Hal tersebut dilakukan karena biaya tanam dan tenaga kerja semakin mahal. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka memilih membeli beras di pasar atau warung.
Marzuki (56), petani di Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal, Jumat (19/12) mengatakan, para petani mulai menjual gabah sisa panen mereka sejak sepekan lalu. Ia juga mengaku telah menjual 1,5 ton gabah yang dimilikinya ke tengkulak. Saat ini, gabah yang tersisa hanya sekitar satu kuintal atau 100 kg. "Itu untuk makan sehari-hari," ujarnya.
Menurut dia, hal tersebut dilakukan karena petani membutuhkan modal untuk biaya tanam. Terlebih saat ini, ongkos tenaga kerja, harga pupuk, minyak tanah untuk bahan bakar mesin pompa air naik.
Ongkos tenaga kerja setiap setengah hari, naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 10.000 per orang. Harga pupuk urea juga lebih mahal bila dibandingkan musim tanam lalu. Meskipun pemerintah telah menetapkan harga eceran tertinggi (HET), para petani cenderung mendap atkan harga lebih tinggi.
Pada musim tanam lalu, harga pupuk urea termahal Rp 75.000 per sak isi 50 kilogram. Saat ini harga urea Rp 90.000 per sak. "Bahkan ada teman yang membeli hingga Rp 100.000 per sak," katanya.
Selain itu, ia juga membutuhkan minyak tanah untuk bahan bakar mesin pompa air. Meskipun hujan mulai turun, ketersediaan air di saluran irigasi belum merata, sehingga petani masih harus menyedot dari sumur bor.
Karyoto (40), petani lainnya juga mengaku menjual tiga kuintal gabah yang dimilikinya. Uang hasil penjualan juga digunakannya untuk modal tanam.
