Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 17:32 WIB
ILO: Bos Makin Kaya, Pekerja Makin Miskin
Josephus Primus | Selasa, 16 Desember 2008 | 18:31 WIB
|
Share:

KOMPAS/SIWI NURBIAJANTI
Sejumlah buruh filet di Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal sedang memasukkan daging filet ke dalam kantong plastik, Selasa (22/1). Sebagai buruh, penghasilan mereka selama lima tahun terakhir tidak mengalami kenaikan. Meskipun demikian, mereka harus dihadapkan pada kenaikan harga berbagai bahan kebutuhan pokok yang terjadi terus-menerus.

TERKAIT:

JAKARTA, SELASA — Krisis keuangan global saat ini mengakibatkan terjadinya  peningkatan secara tajam kesenjangan pendapatan antara kelas eksekutif dan pekerja biasa di kebanyakan negara di dunia.
   
Fakta tersebut merupakan hasil laporan terbaru International Labour Organization (ILO) bertajuk World of Work Report 2008: Income Inequalities in the Age of Financial Globalization yang dikeluarkan di Jakarta, Selasa (16/12).
   
"Sejak 1990, diperkirakan dua per tiga negara mengalami peningkatan ketimpangan pendapatan. Pendapatan penduduk kaya meningkat dibanding dengan kelas menengah dan keluarga miskin secara mencolok," kata ekonom dari ILO Dr Ekkehard Ernst.
   
Ekkehard Ernst mencontohkan, di AS pada 2007 para pemimpin perusahaan (CEO) di 15 perusahaan terbesar menerima pendapatan 520 kali lebih besar dibanding dengan rata-rata pekerja. Kondisi ini meningkat dari 360 kali pada 2003.
   
Di AS, lanjut dia, mulai dari tahun 2003 sampai 2007 upah manajer eksekutif meningkat secara nyata hingga mencapai 45 persen, bila dibandingkan kenaikan upah riil sebesar 15 persen untuk eksekutif menengah dan kurang dari 3 persen untuk pekerja menengah.
   
"Pola serupa meskipun dengan pendapatan eksekutif yang lebih rendah juga terjadi  di Australia, Jerman, Hong Kong, Belanda, dan Afrika Selatan," katanya tanpa menyebutkan data di Indonesia.
  
Secara umum, ia menguraikan, keuntungan yang diperoleh selama masa ekspansif yang berakhir pada 2007 lebih menguntungkan kelompok berpenghasilan tinggi ketimbang mereka yang berpenghasilan kecil dan menengah.
   
"Meskipun tingkat kesenjangan pendapatan bermanfaat sebagai upaya pemberian penghargaan dan peningkatan inovasi, perbedaan yang terlalu besar dapat menjadi kontraproduktif dan membahayakan perekonomian," katanya.
   
Menurut dia, negara yang mampu mengatasi masalah ketidaksetaraan ini adalah negara yang memiliki karakteristik lembaga tripartit yang relatif kuat, peraturan ketenagakerjaan dan perlindungan sosial yang dirancang dengan baik, serta menghormati hak-hak para pekerja.

 

Sumber :
Ant