Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 20:44 WIB
Diawasi BI, Rupiah Balik ke Rp 11.000
Erlangga Djumena | Selasa, 16 Desember 2008 | 17:20 WIB
|
Share:

KOMPAS/ALIF ICHWAN
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS masih melemah. Pada Selasa (18/11), kurs tengah Bank Indonesia berada pada level Rp 11.925 per dollar AS. Sementara itu Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia ditutup turun 47, 071 poin atau 3,81 persen ke posisi 1.189,862.

TERKAIT:

JAKARTA, SELASA — Rupiah, Selasa (16/12) sore, berhasil berada di posisi beli Rp 11.000 per dollar AS dan jual pada Rp 11.000 per dollar AS. Bank Indonesia (BI) terus memantau pergerakan kedua mata uang itu.
   
"BI akan masuk ke pasar melakukan intervensi apabila ada momentum yang tepat untuk masuk guna memicu rupiah agar tidak mendekati angka Rp 12.000 per dollar AS," kata Direktur Financorpind Nusa Edwin Sinaga di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan, BI telah mengetahui siklus kebutuhan valuta asing, seperti pembayaran utang luar negeri sehingga pihaknya bisa mengantisipasi agar rupiah tetap terkendali. "Dengan diketahui siklus kebiasaan para pihak yang membutuhkan valas maka BI diperkirakan akan mempersiapkan kebutuhan itu dengan cepat," katanya.

Ditanya tentang kemerosotan rupiah belakangan ini, menurut dia, terutama akibat imbas dari permasalahan keuangan global. "Ada beberapa currency (mata uang) di regional hampir di semua currency di regional mengalami depresiasi. Jadi, bukan hanya rupiah sendiri yang tertekan," katanya.
   
Menurut dia, BI saat ini terus mencermati rupiah dan selalu siap berada di pasar. Lebih lanjut, dia mengatakan, untuk memperkuat rupiah sebaiknya dilakukan pemupukan cadangan devisa, terutama dari neraca berjalan yaitu dari ekspor dikurangi impor. "Untuk itu sebaiknya pemerintah mulai memperbaiki kinerja ekspor dan mereposisi impor sehingga komposisi impor menjadi rendah," ucapnya. 
   
Ia menambahkan, penguatan rupiah di saat-saat sekarang ini dan mendatang juga didukung oleh ekspektasi penurunan suku bunga AS oleh Bank Sentral AS (The Fed). Selain itu, menurut dia, gejolak nilai tukar rupiah semakin reda karena unsur spekulatif sendiri.

Sumber :
Ant