JAKARTA, SELASA — Rupiah Selasa (16/12) pagi kembali turun karena pelaku pasar masih membeli dollar AS menjelang liburan panjang akhir tahun. Untuk posisi beli, rupiah ada pada Rp 11.100 per dollar AS dan posisi jual pada Rp 11.200 per dollar AS.
Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk Kostaman Thayib di Jakarta, Selasa, mengatakan, faktor utama tertekannya rupiah karena faktor eksternal yang masih menekan pasar global sehingga berimbas ke pasar uang domestik, khususnya rupiah.
"Faktor eksternal itu belum disetujui dana talangan AS untuk membantu sektor otomotif oleh senat yang mendorong pelaku pasar lokal maupun asing membeli dollar AS," katanya.
Pemerintah AS menyediakan dana talangan untuk membantu likuiditas sektor perbankan sebesar 700 miliar dollar AS. Untuk sektor perbankan, Pemerintah AS telah memberikan dana talangan kepada Citibank, sedangkan untuk tiga otomotif, seperti GM, sampai saat ini masih belum terealisasi.
"Kami optimistis apabila Pemerintah AS kembali menyalurkan dana talangan itu, likuiditas pasar global akan semakin baik," ucapnya.
Di pasar domestik, pemerintah berusaha menjaga stabilitas rupiah dengan mencari dana bantuan dari luar negeri, seperti Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dan Bank Perancis, agar mata uang lokal itu tidak terpuruk hingga di atas angka Rp 12.000 per dollar AS.
"Selain itu, pemerintah juga telah menurunkan harga premium dan solar masing-masing Rp 500 per liter yang diharapkan akan bisa memberikan insentif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional," katanya.
Upaya pemerintah terhalang oleh kebutuhan yang besar pelaku pasar terhadap dollar sehingga sampai saat ini belum menunjukkan respons positif terhadap rupiah.
"Rupiah diperkirakan akan kembali menguat pada awal Januari, pembelian dollar oleh korporasi ataupun individu mulai berkurang. Faktor lainnya dengan bertambahnya cadangan devisa BI sebesar 2 miliar dollar AS memperkuat dukungan terhadap pasar uang," tuturnya.
Pemerintah, katanya, harus terus memperbaiki regulasi untuk dapat menarik investor asing masuk kembali ke pasar dan menempatkan dananya baik di Surat Utang Negara (SUN) maupun obligasi pemerintah meski untuk saat ini kemungkinan mereka masih menahan diri.

