Minggu, 26 Oktober 2014

News / Bisnis & Keuangan

Berkat Kemasan Eksklusif, Opak Wonosobo Jadi Naik Kelas

Jumat, 12 Desember 2008 | 10:18 WIB

Opak kucai, makanan ringan sejenis kerupuk dan berbahan singkong ini mungkin tak asing di telinga. Nikmat untuk camilan, rasa gurih dan pedasnya sangat cocok untuk teman menonton televisi. Campuran kucai dan bawang memberi aroma dan dominan rasa yang khas. Perajin opak di Wonosobo, Jawa Tengah menikmati berkah ini.

Opak berwarna hijau dengan kemasan nan cantik bermerek Afifah berderet rapi memenuhi toko-toko pusat oleh-oleh di Wonosobo. Kerupuk seberat 3,5 ons itu dijual Rp 5.000 per bungkus. Adalah Lailatin Afifah, perempuan asal Wonosobo yang memasok opak itu.

Sejak dua tahun lalu, bersama dengan lima perajin opak di kampungnya, Afifah memproduksi dan memasarkan sejenis krupuk dari singkong ini. Awalnya, is hanya menjual produk ke pasar-pasar tanpa kemasan. "Waktu itu, harganya Rp 5.000 per kilogram (kg)," ujar perempuan berjilbab ini.

Tapi, seiring dengan keinginannya mengembangkan bisnis opak lebih besar lagi, Afifah mulai mencari celah. lbu tiga anak ini mulai memikirkan kemasan opak. "Orang belanja di pasar tak peduli kemasan, yang penting isi. Tapi, kalau orarrg menengah atas yang dilihat pertama pasti kemasannya," jelasnya.

Afifah mulai mengemas opaknya lebih eksklusif dan mencetak namanya sebagai merek. Setelah masuk toko dengan kemasan lebih eksklusif, harga opak buatannya berani langsung naik dari Rp 5.000 per kg, kini menjadi Rp 5.000 per 3,5 ons.

Setiap bulan, Afifah bisa menjual 1.000 bungkus opak. "Dari omzet sebeser Rp 5 juta yang masuk, setiap bulan, keuntungan bersih saga sebesar Rp 1,4 juts," katanya. Sisanya dia pakai sebagai biaya produksi, termasuk membayar karyawan. Afifah mengaku kalau masa liburan atau lebaran penghasilannya bisa bertambah 3 kali lipat.

Omzet sebesar itu baru dari penjualan di wilayah Wonosobo, belum termasuk Bali. Khusus ke Bali, Afifah menjual opaknya lebih mahal Rp 2.000 sebagai ganti ongkos kirim. "Kalau dari Bali, keuntungan saya bisa mencapai Rp 2,2 juta," ucapnya senang. Afifah rutin mengirim 1.000 bungkus opak ke Bali per bulan.

Sebenarnya, Afifah ingin mengirim opaknya ke daerah lain. Tapi, ia terganjal daya beli. "Untuk daerah Jawa Tengah, harga Rp 5.000 per bungkus sudah kemahalan. Padahal, saya musti menaikkan harga sebagai ongkos transportasi," keluhnya. Afifah sudah mencoba memasakkan opaknya ke toko-toko modern. Tapi, lagi-lagi, ia terganjal modal. "Wah, tidak bisa membayar uang panjer," katanya.

Soal kualitas, Afifah berani menjamin kerupuknya lebih empuk dan bisa langsung digoreng. Selain itu, ia juga punya hak paten dari Dinas Perdagangan dan izin dari Dinas Kesehatan setempat. "Opak saya juga sudah dicap halal!" katanya semangat.

Meski baru dua kota, Afifah berharap opak produksinya terus berkembang. "Karena baru ada di Wonosobo dan Bali, jadi kalau ke kota ini, jangan lupa membeli opak Afifah," pesannya.


Editor :
Sumber: