BANTUL, KAMIS - Pasokan elpiji ke Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta sejak sepekan terakhir tersendat. Distributor utama yang biasanya menerima jatah 500 tabung elpiji kemasan 3 kilogram dan kemasan 12 Kilogram, kini hanya menerima masing-masing 100 tabung. Masyarakat pun kebingungan karena mereka sudah telanjur menggunakan elpiji, dan harga minyak tanah melambung hingga Rp 7.000 per liter.
Nurjayanti, distributor gas elpiji di Bantul, Kamis (11/12) mengaku dalam seminggu hari terakhir hanya mendapatkan pasokan satu kali. Itu pun hanya seperlima dari jatah biasanya. "Saya biasa dapat pasokan 500 tabung kemasan 3 Kg dan 500 tabung kemasan 12 Kg setiap dua hari sekali," katanya.
Minimnya pasokan membuat Nurjayanti menghentikan suplai elpiji ke pengecer. Elpiji-elpiji itu dijualnya sendiri secara eceran. "Banyak pengecer yang telepon ke saya terus menanyakan stok elpji. Untuk menghindari keributan antar pengecer, saya memilih menjual eceran saja," katanya.
Menurut Nurjayanti, pihak Pertamina berjanji pasokan akan lancar mulai tanggal 17 Desember mendatang, menunggu servis kilang di Cilacap selesai. Namun ia meragukan janji itu, karena selama ini janji Pertamina seringkali tidak terbukti.
Ketersendatan pasokan, membuat distributor harus mengeluarkan biaya operasional lebih banyak. Pasalnya mereka harus membayar upah tenaga yang menunggui tabung selama mengantre di Pertamina. "Saya menempatkan 6 orang untuk menjaga 3 truk tabung. Setiap harinya saya harus memberi uang makan ," tambahnya.
Egi, pengecer elpiji di Dusun Bawen, Desa Palbapang, Bantul mengatakan, untuk mendapatkan pasokan ia terpaksa berburu ke berbagai tempat. Biasanya ia mendapatkan pasokan dan sesama pengecer di daerah lain yang tingkat penggunaan elpiji masih rendah.

