Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 17:55 WIB
Menneg BUMN: Bensin Langka karena SPBU Anggap Subsidi Terlalu Kecil
Gentur Putro Jati | Kamis, 4 Desember 2008 | 13:09 WIB
|
Share:

JAKARTA, KAMIS - Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (Menneg BUMN) Sofyan A Djalil gerah juga dituding Hiswana Migas sebagai biang keladi kelangkaan premium di SPBU belakangan ini. Menurut Sofyan, ia sudah menyetujui subsidi diberikan PT Pertamina (Persero) kepada pengusaha SPBU sebesar Rp 160 per liter.

Sofyan mengaku, besaran subsidi yang disetujuinya tidak sebesar yang diinginkan pengusaha SPBU, yaitu Rp 500 per liter untuk 54.000 kiloliter premium, yang biasa dijual dalam satu hari. Artinya Pertamina harus menyediakan Rp 27 miliar untuk mengurangi beban kerugian pengusaha. Kerugian tersebut akibat selisih harga beli premium pada 30 November yang diturunkan dari Rp 6.000 per liter menjadi Rp 5.500 per liter pada 1 Desember.

"Saya hanya menyetujui subsidi sebesar Rp 160 per liter dan jumlah premium yang disubsidi hanya 27.000 kiloliter saja sehingga total subsidi yang harus disiapkan Rp 4,32 miliar. Tapi karena pengusaha SPBU menganggapnya terlalu kecil, mereka lebih memilih tidak menebus premium pada tanggal 30 November sehingga terjadi kelangkaan," kata Sofyan melalui sambungan telepon, Kamis (4/12).

Sofyan menjelaskan, bukan tanpa alasan dirinya menolak pemberian subsidi sebesar Rp 27 miliar kepada pengusaha SPBU. Pasalnya, beban tersebut seharusnya tidak hanya ditanggung Pertamina saja tetapi juga oleh pengusaha SPBU. Makanya ia hanya menyetujui subsidi hanya diberikan untuk jumlah premium 27.000 kiloliter saja.*

Sumber :
KONTAN