Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 16:44 WIB
PLN Masih Kaji Tarif Regional
Josephus Primus | Selasa, 2 Desember 2008 | 15:14 WIB
|
Share:

KOMPAS/AGUS SUSANTO
Nur, seorang penjahit, menunggu listrik menyala kembali di Pasar Sunan Giri, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (14/4). Pengusaha jahit yang mengandalkan daya listrik mengeluhkan matinya listrik yang berarti mengurangi omzet mereka dari 30 persen hingga 50 persen jika padam dua hingga empat jam.

TERKAIT:

JAKARTA, SELASA - PT PLN (Persero) sampai sekarang masih mengkaji kemungkinan penerapan tarif regional.  "Tarif regional perlu diberlakukan. Karena, ada perbedaan pelayanan antara daerah yang satu dengan yang lain. Juga, perbedaan struktur cost," kata  Direktur Utama PLN Fahmi Mochtar pada peluncuran obligasi PLN di Kantor Pusat PLN, Selasa (2/12). 

Fahmi menambahkan, kota Jakarta boleh dikatakan relatif bagus suplai listriknya. Andalannya tinggi, kualitasnya baik. Tentu harganya seharusnya berbeda dengan yang ada di Jayapura. "Sakarang kan struktur tarifnya sama. Apa yang ada di Jayapura, apa yang ada di Aceh, apa yang ada di Jakarta sama. Padahal, layanan yang ada di Jakarta mungkin lebih baik daripada sana. Oleh karena itu, menurut saya, cukup fair kalau ini kita lakukan tarif regional, walaupun sama-sama PLN," kata Fahmi.

Obligasi yang diluncurkan kali ini adalah obligasi konvensional PLN X tahun 2009 serta sukuk ijarah PLN III tahun 2009. Sampai kini, PLN sudah menerbitkan sembilan kali obligasi konvensional, dua kali sukuk ijarah, dan dua kali global bonds.

Tak setuju

Sekilas mengingat soal rencana tarif regional ini, dua tahun silam, pemerintah tak menyetujui rencana tarif regional oleh PLN. Waktu itu, Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) J. Purwono mengatakan tarif regional sama saja dengan kenaikan tarif dasar listrik. Padahal, pada 2007, pemerintah sudah berencana tak menaikkan TDL.

Masih menurut J. Purwono, pada 2007, pemerintah dan DPR sudah menyiapkan dana subsidi PLN sekitar Rp25,8 triliun. Dana sebesar itu ditempatkan di pos Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2007.

Sementara itu, pada Oktober tahun ini, Fahmi Mochtar pernah mengatakan pihaknya merencanakan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 30 persen pada 2010. Kenaikan tersebut merupakan upaya perusahaan setrum milik negara itu mencapai target kemandirian pada 2012.

Fahmi menambahkan, tarif listrik Indonesia masih 7 sen dollar AS per kWh. Sementara, di Malaysia, tarifnya 10 sen dollar AS per kWh, Philipina 15 sen dollar AS per kWh, dan Singapura di atas 20 sen dollar AS per kWh.