JAKARTA, SELASA - Direktur Utama PT Jamsostek memperkirakan pada tahun 2008 potensi kerugian (unrealized loss) mencapai Rp 4,1 triliun karena anjloknya harga saham di pasar modal.
"Sampai dengan 31 Oktober 2008, karena penurunan indeks harga saham di pasar modal, "unrealized loss" (rugi yang tidak direalisasikan--red) sekitar Rp 4,1 triliun," kata Direktur Utama Jamsostek, Hotbonar Sinaga, di sela Rapat Kerja Kementerian BUMN dengan Komisi VI DPR-RI, di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Selasa (2/12).
Menurut Hotbonar, potensi kerugian sebesar Rp 4,1 triliun tersebut merupakan bagian dari jumlah investasi saham perseroan yang mencapai Rp 7,3 triliun atau mencapai sekitar 12,3 persen dari total investasi sebesar Rp 57,2 triliun.
Akibat penurunan harga saham tersebut, perseroan juga memproyeksikan laba bersih tahun 2008 hanya mencapai Rp 932 miliar, lebih rendah dibanding laba bersih 2007 sebesar Rp 998 miliar.
"Tahun ini tekanan cukup berat khususnya instrumen investasi yang terkait langsung dengan kondisi pasar saham yang saat ini telah turun lebih dari 20 persen," katanya.
Meski begitu Hotbonar menambahkan, angka sebesar Rp 4,1 triliun itu merupakan potensi kerugian yang akan terealisasi jika perseroan melepas seluruh keseluruhan saham.
Sebagai ilustrasi ia menambahkan, jika semua saham tersebut pada 30 Oktober 2008 semuanya dijual atau tidak disisakan satu lembar saham pun maka akan rugi Rp 4,1 triliun.
Pernyataan Hotbonar tersebut, mengundang kontra dari anggota DPR Fraksi PDIP, Hanto Kristanto.
Hasto menganggap Dirut Jamsostek terlalu menganggap enteng dengan potensi kerugian akibat investasi di saham tersebut.
Menanggapi hal itu Menneg BUMN Sofyan Djalil menjelaskan, potensi kerugian yang dimaksud Jamsostek adalah bahwa dalam konsep investasi ada yang dimaksud dengan "potensial loss" jika memang saham tersebut dijual habis.
"Akan bisa hilang (kalau dijual). Tetapi dalam kondisi seperti sekarang ini tidak dijual karena Jamsostek memiliki alokasi saham BUMN besar seperti Telkom, Aneka Tambang, Bukit Asam, Semen Gresik," kata Sofyan.
Secara keseluruhan ujar Menteri, Jamsostek masih membukukan keuntungan yang cukup besar dan berhasil membagikan dana jaminan hari tua sebesar Rp 3,3 triliun dari hasil invetasi bruto Rp 5,9 triliun.
Hotbonar menambahkan, hingga 31 Oktober 2008 dari investasi total Rp 57,2 triliun tersebut, sebanyak 46 persen atau sekitar Rp26 triliun dialokasikan dalam bentuk obligasi, sebesar 30 persen atau Rp 17,16 triliun bentuk deposito, dan selebihnya dalam bentuk reksadana serta penyertan dan properti.
Meski begitu Hotbonar tidak merinci alokasi saham BUMN yang dimaksud, sedangkan dari Rp 26 triliun obligasi, sebanyak 75 persen merupakan obligasi negara, 22 persen obligasi perusahaan-perusahaan BUMN, dan tiga persen obligasi swasta.
Menurut dokumen Rapat Kerja tersebut, terungkap bahwa total aktiva Jamsostek pada tahun 2008 diproyeksikan mencapai Rp 60,050 triliun, turun dari tahun 2007 sebesar Rp 61,383 triliun.
Dengan prognosa pada instrumen deposito sebesar Rp 31,59 persen, saham dan reksadana sebesar 16,43 persen, obligasi sebesar 51,05 persen, properti dan penyertaan sebesar 0,93 persen.
Dengan komposisi tersebut, perseroan memperkirakan hasil investasi (netto) sebesar Rp 5,59 triliun atau memberikan tingkat imbal investasi (Yield on Investment/YOI) sebesar 9,48 persen.

