Pada perdagangan hari Senin (1/12) di London, harga minyak mentah jenis light crude turun 2,53 dollar AS menjadi 51,90 dollar AS per barrel. Pada 21 November harga minyak sempat menyentuh 48,25 dollar AS, harga terendah dalam tiga setengah tahun terakhir. Sementara harga minyak Brent London turun 2,62 dollar AS menjadi 50,87 dollar AS per barrel.
Penurunan ini terjadi setelah OPEC menunda penurunan produksi hingga pertengahan Desember 2008. Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali al-Naimi mengatakan OPEC akan melakukan tindakan untuk mengatasi penurunan harga minyak pada pertemuan 17 Desember 2008 di Algiers, Aljazair.
Harga minyak sudah turun hampir 20 persen hanya pada November dan 32 persen pada Oktober. Penurunan dalam dua bulan itu merupakan yang terbesar dalam sejarah harga minyak.
Pada pertengahan Desember mendatang diharapkan OPEC mengurangi lagi produksi minyak sebesar 1 juta hingga 1,5 juta barrel per hari.
Krisis ekonomi global telah menekan laju pertumbuhan ekonomi. Seiring dengan itu, permintaan minyak juga menurun.
75 dollar AS
Arab Saudi menyatakan bahwa OPEC menginginkan harga minyak 75 dollar AS per barrel. Dikatakan, itu adalah harga yang wajar. Ini merupakan yang pertama dalam beberapa tahun belakangan OPEC, pemasok 40 persen minyak dunia itu menyebutkan harga wajar minyak.
”Menurut saya, harga 75 dollar AS per barrel baik untuk produser kecil,” ujar Ali al-Naimi di Kairo.
Kejatuhan harga minyak di sisi lain melegakan konsumen. Senin kemarin otoritas penerbangan Taiwan mengumumkan akan menurunkan biaya tambahan penerbangan. Tindakan itu merefleksikan harga minyak yang lebih murah.
Mulai 10 Desember 2008, maskapai penerbangan lokal Taiwan menurunkan biaya tambahan dari 17,5 dollar AS menjadi 15 dollar AS. Biaya tambahan untuk penerbangan internasional diturunkan dari 45,5 dollar AS menjadi 39 dollar AS.
Penurunan harga minyak diharapkan bisa meredakan beban operasional maskapai penerbangan. Sejak kenaikan harga minyak tahun 2003, banyak maskapai penerbangan merugi. China Airlines (Taiwan) merugi 207 juta dollar AS selama semester pertama 2008.
Emirates, maskapai penerbangan yang berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab, mengalami penumpukan utang. Hal itu menimbulkan rumor bahwa Emirates akan digabungkan dengan Etihad Airways yang bermarkas di Abu Dhabi.
Ryanair dikabarkan juga akan mengambil alih Aer Lingus, keduanya maskapai penerbangan Irlandia. Chief Executive/CEO Ryanair Michael O’Leary mengatakan penjualan Aer Lingus terjadi karena pemerintahan mengalami kesulitan keuangan.
”Dunia penerbangan berubah dramatis dalam dua tahun terakhir karena kenaikan harga minyak dan resesi yang membangkrutkan penerbangan,” kata O’Leary. (AP/AFP/JOE)
