JAKARTA, SENIN — Baru kali ini sepanjang tahun 2008 kelompok bahan makan an mengalami deflasi. Padahal, biasanya kelompok ini yang selalu memicu inflasi.
Bulan ini kelompok bahan makan an mengalami deflasi sebesar 0,67 persen. Hal yang sama juga terjadi pada kelompok transport dan jasa keuangan, di mana deflasi mencapai 0,31 persen.
Hal itu diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan saat jumpa pers di Jakarta, Senin (1/12).
Rusman mengatakan, penurunan terhadap jasa transportasi dan jasa keuangan ini belum memperhitungkan penurunan bahan bakar premium dari Rp 6.000 per liter menjadi Rp 5.500 per liter, yang berlaku pada 1 Desember ini.
"Turunnya inflasi November ini disebabkan adanya tekanan harga yang ada di pasar pascahari raya," kata Rusman.
Namun, tidak adanya tekanan permintaan, kata Rusman, bukan berarti kemampuan dan keinginan orang untuk konsumsi berhenti. Penurunan inflasi juga disebabkan sandang dan perumahan yang menjadi konsumsi langsung masyarakat menurun drastis.
"Produksi dari penyediaan bahan pokok sangat memadai sepanjang November, sepertinya masyarakat tidak merasakan gejolak kenaikan minyak goreng," tuturnya.
Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan pada November 2008, yakni cabai merah, emas perhiasan, nasi dengan lauk, rokok kretek filter, mi, ikan diawetkan, bawang merah, rokok kretek, bayam, kacang panjang, ketimun, sawi hijau, jeruk, ayam goreng, air kemasan, cat tembok, tarif kontrak rumah, pasir, tarif listrik, pembasmi nyamuk cair, uang kuliah akademi/perguruan tinggi, dan mobil.
Sementara itu, komoditas yang mengalami penurunan harga, yakni daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng, telur ayam ras, bensin, angkutan antarkota, angkutan udara, daging sapi, kangkung, petai, tahu mentah, cabai rawit, kelapa, besi beton, dan bahan bakar rumah tangga.

