JAMBI, MINGGU - Pemerintah Provinsi Jambi akan membangun kawasan industri hilir di Pelabuhan Muara Sabak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Seluruh infrastruktur pendukung dan pengembangan pelabunan diharapkan selesai tahun 2010.
Kawasan industri hilir diawali dengan upaya percepatan pembangunan Pelabunan Muara Sabak , yang akan menggantikan Pelabuhan talang Dukuh di Kota Jambi. "Pembangunan dermaga, gudang, fasilitas bongkar muat, lapangan timbun, dan kantor, kami perkirakan sudah akan berlangsung pada pertengahan tahun depan," kata General Manager PT Pelabunan Indonesia (Pelindo) II Yanto Barbarosa, Minggu (30/11).
Menurut Yanto, Pelabuhan Talang Dukuh sebagai pelabuhan utama di Jambi , tidak lagi memadai. Saat ini, hanya kapal-kapal berkapasitas maksimal 3.000 ton yang dapat masuk ke pelabuhan. Kapal-kapal besar terkendala oleh alur Sungai Batanghari yang berkelok dan menyempit pada sejumlah titik, serta sedimentasi yang kerap mengakibatkan kapal kandas.
Pada pelabuhan yang baru nanti, pihaknya akan membangunkan dermaga sepanjang 300 meter sehingga memungkinkan tiga kapal besar berkapasitas maksimal 20.000 ton untuk bersandar. Untuk gudang penyimpanan barang luasnya mencapai 5.000 meter persegi. Pihaknya juga akan menjalin kerjasama dengna swasta untuk membangunkan tangki-tangki untuk penimbunan minyak sawit mentah atau CPO.
Kepala Biro Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Pemprov Jambi, Hasviah mengatakan, dengan keberadaan Pelabuhan Muara Sabak, pengguna kapal hanya menghabiskan waktu dua jam untuk mencapai ambang luar. "Hal ini tentunya menarik minat investor untuk membangun industri hilir di sana. Sejauh ini sudah ada dua investor, dari Perancis dan Cina yang ingin mengembangkan industri biodiesel di Muara Sabak," tuturnya.
Ia melanjutkan, jika industri hilir dapat dikembangkan, komoditas unggulan di Jambi seperti sawit dan karet akan memiliki nilai tambah. Menurutnya, produksi CPO mencapai 1,15 juta ton, dan karet 250.000 ton per tahun. Dari hasil produksi tersebut, hanya 20 persen yang dapat diangkut lewat Pelabuhan Talang Dukuh. Sebagian besar justru diangkut lewat Pelabuhan Teluk Bayur dan Pelabuhan Belawan.
"Selain itu, sangat disayangkan apabila seluruh komoditas ini hanya dijual ke luar dalam bentuk setengah jadi, karena harganya lebih murah. Kalau industri hilir berkembang, nilai komoditas akan bertambah, dan banyak tenaga kerja yang terserap," tuturnya.
