Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Senin, 21 Mei 2012 | 12:37 WIB
Krisis Belum Sentuh Industri Rokok
Josephus Primus | Sabtu, 29 November 2008 | 15:16 WIB
|
Share:

Kompas.com/Josephus Primus
Grup Band Drew tampil membawakan lagu-lagu yang diramu dengan musik jazz pada peluncuran Dji Sam Soe Super Premium Masterpiece di kawasan Istora Senayan, Sabtu (29/11). Dji Sam Soe Super Premium Masterpiece diluncurkan dalam edisi terbatas selama hanya tiga bulan sejak 24 November 2008.

JAKARTA, SABTU - Krisis keuangan global terhitung sejak dua bulan terakhir ini belum menyentuh industri rokok. "Kita berdoa saja supaya tidak terjadi," kata Director of Brand Marketing PT. HM Sampoerna Tbk Henny Susanto dalam peluncuran Dji Sam Soe Super Premium Masterpiece di kawasan Istora Senayan, Sabtu (29/11). Dalam kesempatan itu, Henny didampingi oleh Brand Manager Dji Sam Soe Stephanus Kurniadi.

Menurut catatan yang dikumpulkan kompas.com, pada 2007, PT HM Sampoerna Tbk sudah memproduksi 66,6 miliar batang rokok. Perusahaan yang kini menjadi milik Philip Morris itu menguasai 28 persen pangsa pasar rokok di Tanah Air. Pada tahun sama, perusahaan itu membayar cukai Rp17 triliun.

Sementara, kalau dibandingkan dengan 2006, produksi meningkat 1,8 miliar batang. Produk tersebut terdiri dari sigaret kretek tangan (SKT), sigaret kretek mesin (SKM), dan sigaret putih mesin (SPM).

Lebih lanjut Stephanus menerangkan, Dji Sam Soe Super Premium Masterpiece adalah varian paling gres dari Dji Sam Soe. Sejak pertama kali diluncurkan pada 1913, Dji Sam Soe sudah memiliki tujuh varian, termasuk edisi filter. Sebagai edisi terbatas, Dji Sam Soe Super Premium Masterpiece berbanderol Rp25 ribu per bungkusnya beredar di pasaran hanya dalam waktu tiga bulan sejak 24 November tahun ini. "Edisi ini tidak diekspor. Hanya untuk konsumen dalam negeri," demikian Stephanus Kurniadi.