BANTUL, JUMAT - Petani-petani di Kabupaten Bantul meminta pemerintah segera merealisasikan rencana operasi pasar pupuk. Mereka khawatir hasil panennya tidak maksimal karena sampai saat ini petani masih kesulitan mendapatkan pupuk.
Trisno Utomo, petani di Dusun Code, Trirenggo, Bantul DI Yogyakarta, Jumat (28/11) mengaku sudah berusaha mencari pupuk ke tiga distributor tetapi stoknya kosong. Penyaluran pupuk lewat kelompok juga tersendat .Padahal, tanaman padinya sudah menginjak usia 10 hari dan sudah saatnya mendapatkan asupan pupuk.
"Trisno berharap segera diadakan operasi pasar agar kelangkaan pupuk segera teratasi. Sekarang ini kalau mau beli pupuk harus antre dulu di pengecer dengan harga Rp 2.000/Kg untuk urea," katanya.
Hal senada juga diungkapan Paiman. Dalam sekali masa panen ia membutuhkan 3 sak urea untuk lahannya seluas 2.500 meter persegi. "Pemerintah jangan hanya berjanji, tetapi harus segera merealisasikan agar hasil panen kami bisa maksimal," ujarnya.
Secara terpisah, Kepala Seksi Sarana Prasarana Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul, Sri Supadmi mengaku belum mengetahui rencana pemerintah untuk menggelar operasi pasar. "Kami belum menerima informasi resmi, jadi tidak tahu pasti mekanismenya nanti seperti apa," katanya.
Untuk mengatasi kelangkaan urea, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul sebenarnya sudah mengajukan tambahan alokasi urea sebanyak 1.600 ton, namun sampai sekarang belum mendapatkan respon.
Kebutuhan urea di Kabupaten Bantul mencapai 15.574 ton, sementara alokasi yang diperoleh 16.398 ton. Jadi sebenarnya sudah ada kelebihan, namun tetap saja kelangkaan pupuk tak terhindarkan.
"Kelangkaan kemungkinan besar karena penggunaan urea melebihi dosis. Temuan kami di lapangan menyebutkan dosis yang digunakan petani sering mencapai 500 Kg/hektar, padahal dosis yang dianjurkan hanya 250 Kg/hektar," katanya.
Supadmi menambahkan, selama ini petani juga terlalu urea-minded. Mereka enggan mencoba pupuk jenis lain seperti NPK, ZA, dan Phospat. "Pemupukan yang dilakukan petani masih belum berimbang karena terlalu didominasi urea," ujarnya.

