Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 16:34 WIB
Pemilu, yang Senang Mereka yang di 'Atas'
Inggried Dwi Wedhaswary | Kamis, 27 November 2008 | 17:46 WIB
|
Share:

KOMPAS.COM/INGGRIED DWI WEDHASWARY
Muhari (52) berharap Presiden pada tahun 2009 mendatang bukan hasil produk "Paket C"

TERKAIT:

JAKARTA, KAMIS - Presiden, milik semua orang yang menjadi warga di negeri ini. Menjelang 2009, perbincangan tentang siapa yang pantas menduduki Istana Negara semakin menghangat. Kebetulan saja, dalam sebuah perjalanan, seorang sopir taksi, Muhari tiba-tiba berkomentar tentang gegap gempita 'pesta 5 tahunan' yang ternyata mengusiknya.

Dengan polos, pria berusia 52 tahun ini berkeluh kesah. "Yang seneng pemilu, ya mereka-mereka yang 'di atas' saja. Kita-kita rakyat kecil ini jadi penonton saja," katanya. Muhari mengatakan, sepanjang hidupnya, ia memang hanya menjadi penonton panggung politik. Ia mengaku, tak pernah sekalipun menggunakan hak pilihnya. Mengapa? "Ah, ngapain. Dari dulu sampai sekarang, milih nggak milih, nggak ada yang berubah dalam hidup saya," ujarnya.

Sejumlah tokoh yang mulai bermunculan dan menawarkan diri sebagai calon presiden, tak ada yang menggoda hati Muhari untuk pertama kalinya menggunakan hak pilihnya. Perantau asal Kalimantan ini berpendapat, para tokoh yang mencalonkan diri sebagai presiden masuk dalam kategori hasil produk "paket C" alias jadul.

"Seharusnya yang jadi presiden paling tidak yang umurnya dibawah 50 tahun. Kalau yang muncul sekarang kan diatas 50 tahun semua. Produk "paket C" lah. Kayak saya ini, umur 52 tahun juga bisa dibilang produk "paket C". Sekarang kan kebanyakan yang dipimpin lulusan luar negeri, gimana kalo presidennya jadul. Saya ngeliatnya kok nggak pas," tambah Muhari.

Ia berharap, siapapun yang terpilih sebagai presiden adalah sosok yang memiliki tingkat pendidikan tinggi dan mampu memberi perubahan besar bagi orang-orang seperti dirinya. Setali tiga uang, Muhari juga bersikap apatis terhadap pemilu legislatif yang akan dilangsungkan pada April 2009 mendatang. Namun, ia menghormati setiap orang yang memilih untuk menggunakan hak pilihnya dan tak berniat mempengaruhi orang lain mengikuti pilihannya sebagai 'penonton'.