Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 16:34 WIB
Antrean Pupuk Masih Terlihat
Antonius Ponco A | Kamis, 27 November 2008 | 14:38 WIB
|
Share:

KOMPAS/KHAERUDIN
Namora Manalu, petani jeruk di Desa Lobu Tua, Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, mengaduk campuran kompos untuk pembuatan pupuk organik, Jumat (20/6). Pupuk organik yang dibuat Namora merupakan campuran kompos, ikan busuk, dedak, dan sekam yang dicampur dengan bakteri pengurai. Petani di Sumatera Utara seperti Namora sekarang ini mulai beralih menggunakan pupuk organik akibat menghilangnya pupuk bersubsidi dan mahalnya pupuk kimia nonsubsidi.

TERKAIT:

NGAWI, KAMIS - Sulitnya petani memperoleh pupuk masih terlihat di Kabupaten Magetan dan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Kamis (27/11). Di dua kios pupuk di dua kabupaten itu, petani harus rela antre berjam-jam untuk memperoleh pupuk. Itupun dengan jumlah yang terbatas.

Di Ngawi, antrean petani memperoleh pupuk terlihat di kios pupuk di Desa Geneng, Kecamatan Geneng. Adapun di Magetan, antrean petani memperoleh pupuk terlihat di kios pupuk di Desa Gunungan, Kecamatan Kartoharjo.

Di kedua kios itu, petani sudah antre sejak pukul 08.00 tetapi baru mulai dilayani sekitar pukul 11.00. Itupun dengan jatah pembelian yang terbatas. Di Geneng, setiap petani hanya boleh membeli 1,2 kuintal pupuk sedangkan di Gunungan, petani hanya boleh membeli 50 kilogram pupuk.  

"Sudah satu bulan petani sulit membeli pupuk. Dari kebutuhan saya 14 kuintal pupuk sekarang saya baru memperoleh 3,7 kuintal pupuk. Padahal usia padi saya sudah tujuh hari atau waktunya diberi pupuk," keluh Ratno, petani Geneng.

Para petani khawatir jika pupuk yang dibutuhkan tidak segera diperoleh, tanaman padi mereka akan mati.