Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 20:17 WIB
Suku Bunga Dipangkas, Minyak Naik
Josephus Primus | Kamis, 27 November 2008 | 07:07 WIB
|
Share:

NEW YORK, RABU - Harga minyak mentah dunia berbalik naik (rebound) pada Rabu (27/11) waktu setempat, setelah China dan Eropa bertindak memerangi kecenderungan turun ekonomi global yang mengurangi kecemasan krisis mendalam akan mengurangi permintaan energi.
    
Pasar juga mendapat dukungan dari prospek kemungkinan OPEC menurunkan lagi produksinya, ketika kartel eksportir minyak mentah itu bertemu akhir pekan ini di Kairo.
    
Minyak mentah light sweet untuk pengiriman Januari meningkat 3,67 dolar AS menjadi ditutup pada 54,44 dollar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
    
Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan Januari bertambah 3,57 dollar AS menjadi mantap pada 51,55 dollar AS per barel.
    
Kenaikan awal belangsung cepat karena sebuah rally di Wall Street memberikan kesan bahwa prospek ekonomi dapat membaik meski laporan ekonomi Oktober suram.
    
John Kilduff dari MF Global mengatakan beberapa dari ekonomi  suram berkurang, karena janji untuk mempercepat tindakan oleh presiden AS terpilih Barack Obama, seperti halnya upaya stimulus di Uni Eropa, China dan negara lainnya.
    
Di China --negara konsumen energi terbesar kedua di dunia-- bank sentral negara itu mengumumkan pemotongan suku bunga hingga 1,08 persen dari suku bunga acuan dalam setahun sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi.
    
Sementara itu Komisi Eropa mengusulkan paket stimulus menyeluruh senilai 200 miliar euro (259 miliar dollar AS), kata sumber di Uni Eropa, untuk menarik ekonomi Eropa keluar dari krisis.
    
"Dengan UE pada akhirnya mengakui bahwa inflasi bukan merupakan kekhawatiran akut mereka, China mengambil langkah untuk menjaga semangat pertumbuhannya, dan AS memerlihatkan akan menjag pencetakan uangnya  hingga pasar kredit mencair, para investor akan mulai merasakan sedikit kurang peka," kata Kilduff.
    
"Apakah level ini masih akan  bertahan, namun yakin, beberapa akan mencoba di bawah level teritorial  Kamis lalu di bawah 50 dollar AS per barel," imbuhnya.
    
Para pedagang juga mengabaikan data yang menunjukkan stok minyak mentah AS melonjak pekan lalu -- mengindikasikan bahwa permintaan di konsumen energi terbesar di dunia itu telah berkurang.
    
Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang memproduksi 40 persen minyak mentah dunia, akan mengadakan pertemuan darurat di Kairo, Mesir, Sabtu mendatang, yang diperkirakan akan memutuskan pemangkasan produksi sebagai respon terhadap penurunan harga minyak.
    
Pada pertemuan bulan lalu di Wina, OPEC sepakat mengurangi produksi hingga 1,5 juta barel per hari mulai 1 November, tetapi harga minyak masih berlanjut turun.
    
Harga minyak mentah telah anjlok sekitar dua per tiga sejak mencapai rekor tertinggi di atas 147 dollar AS per barel pada bulan Juli 2008.
    
Pada pekan lalu, harga minyak anjlok hingga di bawah 50 dollar AS per barel, level terendah sejak awal 2005.
    
Sementara pemerintah AS mengatakan Rabu, bahwa cadangan minyak mentah Amerika meningkat 7,3 juta barels dalam pekan yang berakhir 21 November. Konsensus para analis memproyeksikan  naik 900.000 barel.
    
Perdagangan di New York akan tutup pada hari Kamis (27/11) untuk hari libur Thanksgiving.

Sumber :
Ant