Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 16:33 WIB
Jangan Sampai Saham Dimiliki Asing Lagi
| Rabu, 26 November 2008 | 15:18 WIB
|
Share:

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG
Sorang pialang saham beraktivitas di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Perdagangan saham di BEI, Kamis (16/10) siang, masih belum bergairah akibat terimbas krisis finansial global.

TERKAIT:

Laporan Wartawan PersdaNetwork Sugiyarto

JAKARTA, RABU - Ketua Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) A Fuad Rahmany mensinyalir investor asing sudah mulai mengakumulasi saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang lagi jeblok. Untuk itu, ia menghimbau investor dalam negeri untuk memanfaatkan peluang harga saham murah saat ini untuk membelinya.

Menurut Fuad, bila investor domestik tidak memanfaatkan kesempatan ini, maka investor asing yang akan memborongnya dan menguasai saham-saham perusahaan itu. "Harga saham saat ini murah. Asing yang mulai masuk. Jangan sampai nanti dikuasai lagi oleh investor asing hingga 80 persen," kata Fuad, Rabu (26/11).

Untuk itu, imbau Fuad, jangan sampai investor domestik tertinggal dengan aksi beli investor asing. "Jangan sampai telat dan jangan ragu-ragu untuk membeli," katanya.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) mulai awal tahun hingga saat ini sudah turun sebanyak 57,97 persen. Ini penurunan kedua, setelah bursa saham Shanghai dan Shenzhen yang turun masing-masing 64,10 persen dan 63,26 persen. Setelah itu,diikuti bursa saham Hong Kong turun 53,69 persen dan Jepang 45,62 persen.

Fuad meminta agar investor tidak terlalu panik dan pesimistis dengan kondisi penurunan IHSG. Sebab, kondisi bursa saham di Indonesia memiliki besaran yang berbeda jika dibandingkan dengan bursa saham negara-negara lainnya. "Kita tidak usah terlalu pesimis dan kecil hati. Karena, tergantung size berbeda," tuturnya.

Dia mencontohkan, jika indeks Dow Jones turun hanya 5 persen, maka IHSG turun 8 persen. Seharusnya, lanjut Fuad, IHSG bisa turun hingga 10 persen. "Kalau misalnya hanya turun 8 persen adalah wajar, karena size capital market. Jangan terlalu pesimistis ataupun kecil hati. Kita tidak bisa terhindar dari krisis global sehingga kita ikuti saja," kata Fuad.

Fuad mengatakan, lonjakan IHSG beberapa lalu akibat double impact. Yaitu, dengan kenaikan harga saham sektor pertambangan dan perkebunan. Karena, memang IHSG didorong oleh penguatan kedua harga saham itu.

Saat ini, lanjut Fuad, dalam keadaan terbalik, dengan penurunan harga saham sektor komoditas dunia, sehingga memengaruhi kinerja saham saham sektor pertambangan dan perkebunan. "Beberapa harga komoditas dunia seperti, CPO dan timah turun," tuturnya.

Dengan kondisi harga saham yang sudah terbilang murah itu, kata Fuad, sudah layak bagi investor domestik mulai membeli saham-saham murah itu.

Terkait dengan kondisi yang masih belum stabil pula, nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana juga telah mengalami penurunan hingga Rp 3 triliun. "Ini masih wajar, jika dibandingkan dengan penarikan besar-besaran reksa dana pada tahun 2005," kata Fuad.

Pada tahun 2005 lalu, menurut Fuad, telah terjadi aksi penarikan dana besar-besaran (redemption) NAB dari Rp 115 triliun menjadi Rp 30 triliun.
Sekarang ini redemption atas NAB hanya Rp 3 triliun.  Karenanya, Fuad meminta agar investor merubah orientasi investasinya dari investasi jangka pendek menjadi investasi jangka panjang (long term invesment).

Bahkan lebih jauh lagi, dengan ke luarnya investor domestik dari reksa dana menyebabkan timbulnya redemption baru. Untuk melindungi pasar agar lebih bergerak wajar, efisien dan teratur, maka Bapepam-LK telah melakukan pembenahan-pembenahan regulasi. Itu dilakukan agar dapat melindungi pemegang saham, terutama pemegang saham keci (ritel).

"Pada saat redemption tahun 2005, kita mencoba untuk melindungi share handle kita, terutama kita benahi selling agent, manager investasi. Karenanya, selama dua tahun kami tidak mengizinkan adanya manager investasi baru," kata.

Untuk lebih meningkatkan kinerja Bapepam-LK bekerja sama dengan Bursa Australia dalam mengembangkan coplain management. Selain itu, Bapepam-LK juga mengembangkan sistem teknologi informasi. "Namun saya tahu, untuk membangun itu semua butuh waktu. Tidak hanya cukup
semalam. Tapi, kita harus tetap kembangkan," tuturnya.