Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 16:27 WIB
Sentimen Positif Bikin Rupiah Stabil
Josephus Primus | Senin, 24 November 2008 | 10:41 WIB
|
Share:

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA
Karyawan menghitung rupiah di tempat penukaran uang di kawasan Cikini, Jakarta, Kamis (13/11). Kebijakan Bank Indonesia yang mengatur pembelian dollar AS belum bisa meredam tekanan terhadap rupiah. Pada perdagangan kemarin rupiah ditutup melemah di posisi Rp 11.800 per dollar AS atau melemah 100 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya.

TERKAIT:

JAKARTA, SENIN - Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Senin (24/11) pagi bertahan. Sebelumnya, ada isu Bank Pembangunan Asia (ADB) sepakat memberikan pinjaman 500 juta dollar AS kepada Indonesia melalui skema multitrance finance facility (MFF) untuk membiayai proyek infrastruktur.
    
Nilai tukar rupiah stabil pada Rp12.300/12.500 per dollar AS dari sebelumnya Rp12.300/12.405.
    
Pengamat pasar uang, Edwin Sinaga mengatakan di Jakarta, Senin, sentimen positif terhadap rupiah masih belum dapat mengangkat rupiah naik dibanding hari sebelumnya.
    
Stabilnya rupiah dinilai cukup baik, karena dengan adanya sentimen positif, rupiah tidak terpuruk lebih jauh. Selain itu, pemerintah juga harus merubah sistem devisa bebas menjadi terkontrol dan melakukan intervensi gabungan antarbank sentral. Karena, keterpurukan rupiah dinilai cukup tinggi. Meski, semua mata uang utama Asia lainnya juga mengalami hal yang serupa, katanya.
    
Edwin melanjutkan, pemerintah harus mampu menggalang dana warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri dalam bentuk dollar AS dan melakukan fasilitas swap dan repo sehingga kebutuhan dolar akan dapat terpenuhi. "Kami optimistis apabila pemerintah dapat melakukan hal tersebut, kemungkinan rupiah tidak akan terpuruk lebih jauh, " ucapnya.
    
Menurut dia, apabila semua itu dapat dilakukan dengan baik,, nilai tukar rupiah pada semester kedua 2009 diperkirakan kembali membaik bahkan akan bisa di bawah angka Rp10.000 per dollar AS.
    
Indonesia dinilai masih merupakan pasar potensial, karena investor asing cenderung masih berminat untuk menempatkan dananya di pasar domestik. Apalagi selisih tingkat bunga rupiah terhadap dollar AS masih tinggi, yang merupakan salah satu pendorong asing kembali bermain di pasar domestik apabila gejolak keuangan global mereda, ucapnya.

 

Sumber :
Ant