Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 16:24 WIB
Sektor Bisnis dan Industri Terlayani Akhir 2009
Aloysius Budi Kurniawan | Jumat, 21 November 2008 | 20:42 WIB
|
Share:

SURABAYA, JUMAT - Hingga akhir 2009 pasokan energi listrik untuk pelanggan baru sektor bisnis dan industri besar di Jawa Timur belum dapat terlayani. Pemenuhan energi listrik di atas 23 kilo volt ampere baru terlaksana setelah pembangunan proyek pembangkit listrik 10.000 megawatt masuk wilayah Jawa dan Bali.

Sampai dengan bulan November 2008, tercatat 900 mega volt ampere pemesanan daya yang telah masuk daftar tunggu. Pemesanan tersebut berasal dari sektor bisnis seperti perhotelan dan mal serta sektor industri.

"Pasokan listrik baru akan terealisasi sekitar akhir tahun 2009 setelah selesainya pembangunan proyek pembangkit listrik 10.000 megawatt tahap I," kata Juru bicara PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Agus Widayanto, Jumat (21/11) di Surabaya.

Proyek pembangkit listrik 10.000 megawatt tahap I akan dihasilkan dari tiga pembangkit listrik tenaga ua p (PLTU), yaitu PLTU Rembang (2 x 315 megawatt), PLTU Labuhan (2 x 316 megawatt), dan PLTU Indramayu (3 x 330 megawatt). Dengan demikian, total daya yang dihasilkan tiga PLTU tersebut 2.252 megawatt. Pasokan energi ini diharapkan mampu memenuhi defisit listrik di area Jawa-Bali.

Beban puncak konsumsi energi listrik per hari di Jawa Timur mencapai 3.300 megawatt. Sementara itu, defisit listrik di Jawa Bali mencapai 600 megawatt.

"Penghematan beban konsumsi listrik melalui surat keputusan bersama lima menteri maupun penghematan intern dari masing-masing perusahaan atau instansi hanya menghasilkan penekanan daya 175 megawatt per hari," kata Agus.

Jika kebutuhan energi bisnis dan industri terhambat, penambahan pelanggan baru rumah tangga terus dilahani PLN. Se jak Januari hingga September 2008 tercatat 101.000 pelanggan rumah tangga baru.

"Setiap bulan rata-rata 10.000 pelanggan baru terlayani. Pelanggan baru dengan daya di bawah 23 kilo volt ampere masih dapat kami layani," ujarnya.

Pimpinan Proyek Superblok Grand City R Budiwan mengatakan, pihaknya telah masuk dalam daftar tunggu calon pelanggan dari sektor bisnis. Selama menunggu ketersediaan listrik PLN, pengelola menyiapkan suplai energi dari genset berkekuatan 11 megawatt untuk pemenuhan seluruh kebutuhan energi.

Biaya operasional membengkak

Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jatim Abraham Ibnu mengatakan, beberapa waktu PLN sempat mengimbau pengelola mal dan ritel besar untuk tidak menggunakan genset lagi karena pemadaman bergilir tak lagi dilakukan. Namun demikian, saat ini beberapa pengusaha bisnis dan industri baru terpaksa menggunakan genset karena pasokan energi kurang.

"Dengan keterbatasan persediaan energi listrik hingga akhir 2009 otomatis biaya operasional pengusaha membengkak dengan pemakaian genset. Padahal bahan bakar yang digunakan adalah bahan bakar non subsidi," kata Ibnu.