Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 16:09 WIB
Hanya Unta yang Tidak Batuk..!
| Kamis, 20 November 2008 | 08:15 WIB
|
Share:

pbase

ITULAH anekdot di antara jemaah manakala memasuki puncak pelaksanaan ibadah haji hingga akhir perjalanan kembali ke Tanah Air. Faktor cuaca yang ekstrem, panas sekali atau dingin sekali, membuat banyak jemaah terganggu kesehatannya. Gatal-gatal, flu, pilek, demam, gangguan pencernaan, dan batuk-batuk adalah penyakit ringan yang paling cepat menyergap jemaah. Belum lagi penyakit berat bawaan dari Tanah Air, semisal jantung.

Dengan kondisi kamar yang memuat sampai delapan orang, satu orang saja yang batuk bisa mengganggu jemaah lainnya. Apalagi, kalau sudah dua atau tiga orang yang batuk dalam waktu bersamaan, jemaah satu kamar bisa-bisa tidak dapat istirahat atau tidur nyenyak. Padahal, dalam kondisi tubuh yang letih karena perjalanan jauh dari pemondokan ke masjid pulang pergi bisa dua-tiga kali sehari, tentu saja jemaah membutuhkan istirahat yang sempurna dan tidur nyenyak.

Dalam kondisi seperti itu, tidak ada kata lain kecuali sabar. Namun, selain kata kunci sabar tadi, jemaah juga memang wajib hukumnya untuk tetap menjaga betul kondisi kesehatan agar tetap prima meskipun serangan segala macam penyakit tetap terbuka. Maklum, jutaan orang berdatangan memadati kota Mekkah pada saat yang sama.

Saat ini, misalnya, cuaca di Mekkah tergolong panas dengan suhu mencapai 37-40 derajat Celsius, lebih panas dibandingkan dengan kondisi di Tanah Air. Akan tetapi, pada waktu wukuf di Arafah, 9 Zulhijah sampai tiga hari berikutnya di Mina, suhu udara diperkirakan akan turun drastis mencapai 10-15 derajat Celsius karena sudah memasuki musim dingin.

”Suhu ekstrem ini bisa memengaruhi kondisi kesehatan jemaah haji, apalagi saat ini sedang ada pembangunan (debu bisa beterbangan di mana-mana). Penyakit infeksi saluran pernapasan atau dehidrasi bisa menyerang jemaah,” kata Yuni Eko, staf media center haji.

Oleh karena itu, hal paling utama dan pertama yang harus dipersiapkan jemaah adalah mengantisipasi cuaca dengan menyesuaikan pakaian, setelah itu menjaga keteraturan serta porsi makan an dan minuman supaya tidak kekurangan atau kelebihan sesuai kondisi jemaah. Sering sekali karena terlalu bersemangat ibadah, tinggal berlama-lama di dalam masjid, lalu jemaah melupakan keteraturan makan an tersebut.

Sering sekali makan an dilarang dibawa masuk masjid, tetapi membawa bekal kurma tidak dilarang. Sembari menanti waktu shalat, memakan beberapa biji kurma dan meminum air zamzam yang tersedia di Masjid Nabawi ataupun Masjidil Haram juga cukup untuk mengganjal perut daripada membiarkan perut kosong dan bisa masuk angin.

Jarak pemondokan yang jauh dari Masjidil Haram di Mekkah tentu memerlukan pengelolaan waktu efektif. Misalnya, jemaah tidak perlu bolak-balik antara pemondokan dan masjid setiap waktu shalat. Shalat ashar dan dzuhur, misalnya, bisa dilakukan sekali jalan. Setelah shalat ashar, baru kembali ke pemondokan dan baru ke masjid lagi menjelang magrib dan tinggal sampai isya. Begitu seterusnya. Bahkan, jemaah yang sudah lanjut usia bisa sekali jalan untuk empat waktu shalat, dari dzuhur sampai isya, baru pulang ke pemondokan. Jemaah yang relatif berusia muda tentu saja sangat diharapkan bantuannya untuk turut peduli kepada jemaah yang sudah berusia lanjut, terutama yang tidak memiliki pendamping.

Kecuali soal kesehatan, hal lain yang perlu diperhatikan jemaah adalah penggunaan lift di pemondokan. Banyak di antara jemaah yang seumur-umur belum pernah menggunakan lift. Karena itu, setiap menggunakan lift, ia tidak mau terpisah dengan rombongan sehingga memaksakan diri selalu bersama rombongan, termasuk dalam hal menggunakan lift, padahal lift sudah tidak muat.

Jemaah yang lebih muda dan berpengalaman tentu diharapkan bantuannya untuk menjadi pemandu bagi anggota rombongan yang kurang berpengalaman. Jemaah mesti mengutamakan keamanan dan keselamatan.

Seperti diberitakan, banyak jemaah yang berusia lanjut yang tersesat sepulang dari masjid. Salah satu tip yang perlu diperhatikan adalah menghafal tanda-tanda pintu masjid yang dilalui saat masuk. Di Masjidil Haram, misalnya, setiap pintu memiliki nomor. Mengingat nomor pintu dan ciri-cirinya tentu bisa membantu bagi jemaah. Wallahualam bissawab. (DIS)

M Syaifullah