JAKARTA, RABU - Jumlah kasus pencurian barang dan uang milik jemaah haji Indonesia di Madinah, sejauh ini, menurun dibanding waktu yang sama tahun lalu. Gencarnya sosialisasi yang dilakukan sebelum keberangkatan dari tanah air dianggap sebagai langkah preventif yang efektif untuk mencegah berulangnya kasus tersebut.
Kepala Staf Teknis Urusan Haji, Nur Samad Kamba dihubungi dari Jakarta, Rabu (29/11) sore, mengatakan selain sosialisasi pihaknya juga lebih berhati-hati dalam memilih pengelola akomodasi. "Sampai hari ini, dibanding hari yang sama tahun lalu (kasus pencurian) berkurang," ujarnya.
Pada musim haji tahun ini, menurutnya terjadi kasus pencurian terhadap enam jemaah asal Solo. Mereka berasal dari kelompok terbang 18 yang menempati kamar 402 di sektor V Madinah. Ada indikasi uang itu hilang karena dicuri. Ini bisa dilihat dari kondisi kamar jemaah yang berantakan.
Menganggapi kasus ini, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi telah meminta penyedia akomodasi mengganti rugi uang yang hilang, yang mencapai Rp 15-an juta. Menurut Nur Samad Kamba peristiwa itu berada di bawah penyedia akomodasi perusahaan Mawadah, salah satu dari 8 perusahaan peyedia akomodasi yang ditunjuk untuk wilayah Madinah.
Menurut dia kasus pencurian tahun ini tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Ia menyontohkan, beberapa tahun lalu PPIH pernah mengumpulkan jam tangan milik jemaah terus hilang. Kerugiannya pun mencapai puluhan ribu riyal
"Pengalaman yang lalu, pencurian terjadi di beberapa lokasi. Memang, tadinya kita menyaratkan kepada penyedia akomodasi supaya tidak menyewa rumah di sana. Cuma, tahun ini, karena krisis pemondokan, banyak rumah yang dirobohkan, maka kita tidak menyaratkan seperti itu. Takutnya malah tidak dapat tempat menginap," katanya.
Untuk wilayah Mekkah, menurut Nur Samad Kamba, hingga kini belum ada laporan kasus pencurian. Pihaknya berharap peristiwa yang sama tidak terjadi pada jemaah Indonesia. Berdasar pengalaman, pencurian maupun penipuan di Mekkah banyak terjadi di luar penginapan, seperti jalanan. Penjagaan di penginapan cukup ketat. Orang yang masuk ke rumah sangat terbatas.
"Di Mekkah, peristiwa kehilangan barang biasanya terjadi di jalan. Penipuan, ada joki yang memberikan pelayanan cium Hajar Aswad dengan membayar 100-200 riyal. Tas jemaah kemudian dibuka dan dibawa kabur," terang Nur Samad Kamba.

