JAKARTA, RABU - Krisis keuangan Amerika Serikat, gigitannya mulai dirasakan oleh para pelaku bisnis mobil di Indonesia. Akibatnya, sebagian ATPM dan importir umum membatalkan rencana impor yang telah diajukan ke Departemen Perindustrian.
Bahkan Toyota, sebagai produsen mobil nomor satu di Indonesia, membatalkan beberapa produk yang telah direncanakan untuk dirilis tahun ini antara lain Corolla Altis 2.0 liter, Yaris 1.5J A/T dan 1.5S Limited A/T. Padahal beberapa bulan lalu, para pelaku bisnis otomotif di Indonesia optimis, pasar terus berkembang.
SPK Turun
Meski data yang dikeluarkan GAIKINDO untuk penjualan Oktober 2008 penurunan sangat kecil (415 unit) dibandingkan bulan sebelumnya, September, namun beberapa ATPM mengaku data SPK atau surat perjanjian pembelian kendaraan turun cukup besar.
Diperkirakan, selama Oktober realisasi penjualan mobil di Indonesia berdasarkan SPK hanya 45.000 unit. Kalau ini benar, berarti penurunan penjualan yang cukup berarti, yaitu sekitar 10.000 unit dari bulan sebelumnya. Berarti angka tersebut kembali ke awal tahun ini.
Hal itu diakui oleh Widyawati, Division Head Marketing Planning & Customer Relation PT Toyota Astra Motor. Diperkirakan, pada November dan Desember 2008 penjualan akan terus turun karena dampak krisis keuangan global makin parah sampai tahun depan. Karena itulah, tahun depan ia memperkirakan penjualan mobil tidak akan seperti tahun ini, yaitu 580.000 unit.
Dijelaskannya, berdasarkan analisis yang dilakukan bersama Universitas Indonesia, diperkirakan penjualan mobil tahun depan sama dengan tahun lalu (2007), berkisar 400.000 unit. “Berdasarkan pengalaman, perkiraan para ekonom UI selalu mendekati perhitungan yang mereka dibuat. Kalau pun meleset, paling besar 15%,” komentarnya.
Di atas Rp 200 juta
Terjadi penurunan penjualan itu disebabkan berbagai faktor. Selain likuiditas uang yang makin ketat, bunga kredit yang ditawarkan lembaga leasing juga naik. “Penyebabnya bunga bank juga naik,” jelas wanita ramah ini.
Di samping itu, dengan turunnya berbagai harga komoditas, mempengaruhi daya beli masyarakat terhadap mobil baru. Faktor lain adalah perkembangan nilai rupiah yang makin anjlok terhadap dolar Amerika Serikat. Akibatnya, harga mobil impor semakin mahal. Calon konsumen menunda membeli mobil di atas Rp 200 juta. Kalau pun membeli, harus specs down.
Karena itu pula, ia yakin, salah satu produk Toyota yang menjadi best seller di Indonesia dalam tiga tahun terakhir, Avanza tidak terlalu terpengaruh. Juga diperkirakan, penurunan penjualan yang cukup berarti akan terjadi di sektor kendaraan komersial, seperti truk dan pick up.
Menurut Widyawati, kendaraan kategori tersebut mayoritas pembeliannya melalui kredit. Sekarang justru lembaga keuangannya yang makin memperketat pemberian kredit plus menaikkan suku bunga. Akibatnya, sudah susah dibikin susah lagi!
Meski begitu, Toyota sebagai produsen mobil nomor satu di dunia, tetap saja mengembangkan produk yang akan dipasarkan di Indonesia. Menjelang akhir tahun ini, TAM berencana meluncurkan Hi-Lux Double Cab.

