JAKARTA, SELASA - Adik kandung mantan Mensesneg Yusril Ihza Mahendra, Yusron Ihza Mahendra meyakini kakaknya kini sedang menjadi korban politik pemerintahan SBY-JK. Yusron berani menyatakan seperti itu lantaran kasus proyek Sisminbakum saat kakaknya masih menjadi Menkumham, baru diperkarakan sekarang, jelang Pemilu 2009. Sementara Menkumham saat ini sebagai penerus proyek ini tidak diperkarakan.
"Diangkatnya kasus Sisminbakum dan dipanggilnya Yusril oleh Kejaksaan Agung meski dalam kapasitasnya sebagai saksi, sangat amat sarat kental nuansa politisnya. Ini, demi kepentingan atau ambisi orang-orang tertentu. Sisminbakum sudah berjalan sejak tahun 2001 dan sudah ada menteri-menteri lain yang melanjutkan proyek itu. Jadi, sebetulnya, ini tidak ada masalah," tanya Yusron khusus kepada Persda Network, Selasa (18/11).
"Yusril kan seorang capres dan ini diangkat jelang Pemilu 2009. Lalu, kenapa tiba-tiba proyek Sisminbakum ini diangkat dan kemudian dipermasalahkan? Padahal, proyek itu untuk memperlancar administrasi hukum dan layanan masyarakat. Yang aneh, menteri-menteri yang melanjutkan proyek ini kok tidak disentuh. Jadi jelas, ada indikasi untuk membunuh karakter Yusril dalam hal ini," tegasnya.
Dalam pengadaan proyek Sisminbakum, Kejaksaan Agung mencium aroma tidak sedap pada proyek berbasis internet senilai Rp 40 miliar itu. Dalam kasus ini, sudah tiga orang ditetapkan sebagai tersangka. Masing-masing, Zulkarnaen Yunus, Syamsuddin Manan Sinaga serta Romli Atmasasmita. Mantan istri Yusril, Kessy Sukaesih pada Senin (17/11) kemarin, juga sudah dipanggil oleh Kejaksaan Agung dalam kapasitasnya sebagai saksi. Kessy diduga ikut menerima dana proyek Sisminbakum.
Yusron kemudian mempermasalahkan pemanggilan mantan istri Yusril, Kessy Sukaesih. Ia memberi alasan, dugaan Kessy menerima uang sebesar Rp 15 juta memang sengaja diangkat. Padahal, lanjutnya, status uang itu belum jelas, apakah memang pemberian atau statusnya uang pinjaman. "Jika betul target Kejaksaan Agung memberantas korupsi, kenapa yang dibidik masalah yang ecek-ecek? hanya 10-15 juta dan bukan masalah korupsi yang kakap seperti kasus korupsi BLBI itu?" tanya Yusron.
"Dalam kaitan Romli Artasasmita. Langkah Romli adalah membongkar ijazah palsu, mungkin seseorang kebakaran jenggot dan dendam sehingga mendorong yang bersangkutan mengorek-ngorek Sisminbakum. Pada prinsipnya, saya setuju pemberantasan korupsi. Tapi jika pelaksanaannya didompleng dan diwarnai kepentingan politik dan ambisi pribadi tertentu, niscaya bangsa ini akan makin terpuruk," cetusnya.
Yusron kemudian menyarankan kepada pihak Kejaksaan Agung untuk berani membongkar kasus korupsi yang terjadi di Pertamina. "Sampai sekarang, kita beli minyak di pasar spot yang per barel 3 dollar AS lebih mahal. Ini harus diusut," tukasnya.

