JAKARTA, SELASA - Persoalan transportasi, sepertinya persoalan besar bagi DKI Jakarta. Luas jalan yang terbatas, semakin hari semakin terlihat sesak saja dengan pertumbuhan kendaraan yang semakin meningkat dari hari ke hari. Lihat saja, jumlah pengendara sepeda motor yang semakin 'menyemut'.
Ketua Pusat Kajian Transportasi Universitas Indonesia, Sutanto Soehodho mengatakan, tak terlalu setuju dengan adanya wacana pembatasan jumlah kendaraan bermotor terutama sepeda motor. Kebijakan ini, menurutnya sama saja 'membunuh' masyarakat kalangan menengah yang ingin menghemat biaya transportasinya.
"Urusan jumlah sepeda motor, tumbuhnya karena mereka enggak punya alternatif. Mereka mengatakan, menggunakan bis jauh lebih mahal daripada naik motor Naik motor cuma separuhnya, padahal bis itu sudah angkutan kita yang paling murah. Kalau kita mau membatasi pengguna sepeda motor, sama artinya kita membunuh perjalanan mereka. Mampu enggak mereka pindah ke angkutan umum?," kata Sutanto usai temu pakar transportasi di Jakarta, Selasa (18/11).
Solusinya, lanjut Sutanto, dibuat beberapa alternatif pilihan. Misalnya dengan membuat sistem transportasi umum yang tidak memberatkan, tarif murah dan terjangkau. Sehingga, orang tidak akan berpikir dua kali untuk menggunakan transportasi umum. Caranya?
"Subsidi BBM jangan terus-terusan. Cabut saja, ganti untuk subsidi public transport," ujarnya.
Kebijakan mengenai transportasi ini, menurutnya juga harus menjadi kebijakan nasional di tingkat pusat. Masalah tarif, baru diserahkan pada masing-masing daerah.

