Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 05:40 WIB
Musik
Buaian Salamander Big Band
| Selasa, 18 November 2008 | 14:38 WIB
|
Share:

Imelda Rosalin memainkan piano sambil menyanyikan lagu "Honeysuckle Rose". Lagu gubahan Fats Waller dan Andy Razaf tahun 1929 itu bercerita tentang kegembiraan karena sedang kasmaran. Layaknya gadis yang sedang mabuk cinta, Imelda menyanyikannya dengan centil.

Hingga bait kedua, nyanyian itu hanya diiringi piano, kontra bas, dan pukulan lembut pada bas drum dan simbal. Memasuki bagian refrein, suara ke-13 instrumen tiup membahana bersahut-sahutan. Kegembiraan seakan menemukan puncaknya. Imelda pun semakin centil menyanyikan lirik Well, don't buy sugar/You just have to touch my cup/You're my sugar/And it's oh so sweet when you stir it up//

Lagu berirama swing itu adalah satu dari enam nomor yang dibawakan Salamander Big Band dalam acara ITB Big Band Concert 2008 di Aula Barat Institut Teknologi Bandung, Sabtu (15/11) malam. Selain Salamander, tampil pula Big Band Waditra Ganesha, ELBE Jazz Big Band, Galaxy Big Band, dan Van Alloy Big Band. Biduan jazz kawakan Margie Segers tampil sebagai bintang tamu dengan iringan Salamander.

Swing menjadi bahasa seluruh penampil pada malam itu. Swing yang menimbulkan efek membuai menjadi semangat dasar jazz. Dan, ternyata memang membuai. Setidaknya, sekitar 400 penonton tak henti menggoyang-goyangkan kaki dan kepala. Salah satunya adala Dwi Cahya Yuniman, penikmat jazz yang tergabung sebagai anggota komunitas Klabjazz. "Musik ini awalnya untuk mengiringi kaum kulit putih Amerika berdansa pada tahun 1920-an," ujarnya.

Seluruh band yang tampil memancarkan aroma keriangan swing. Van Alloy Big Band memainkan nomor pop "Rahasia Perempuan" gubahan Ahmad Dhani yang dipopulerkan Ari Lasso. Dalam versi aslinya, lagu ini sudah memiliki banyak cengkok yang asyik buat berjoget. Dimainkan dengan iringan big band, cengkok-cengkok tadi seperti semakin dalam akibat nada yang keluar dari sesi alat musik tiup yang terdiri dari terompet, trombon, dan saxsofon.

Big band juga mampu diajak main balada menyayat hati. Seperti ketika Salamander membawakan "How Long Has This Been Going On" karya kakak beradik George dan Ira Gershwin. Balada ini bertutur tentang penyesalan seorang kekasih lewat. Tiupan saxsofon dan Nenden Syintawati menjadikan balada ini menyayat. Lepas ego

Bermain dalam sebuah big band harus setia dengan partitur yang dihadapi setiap personel. Devy Ferdianto, konduktor Salamander, menjelaskan, improvisasi bagi pemusik sudah tertulis di partitur. Partitur untuk setiap pemain tentu saja dibuat berbeda sesuai dengan porsi masing-masing. "Bagian untuk improvisasi sudah ada. Nanti terserah si pemusik memainkan apa saja asal tepat waktunya," kata alumnus ITB yang akrab dipanggil Aki ini.

Hal itu menuntut kedisiplinan pemusik. Bila tidak, komposisi akan kacau-balau. "Kami bermain sebagai tim. Makanya, di sini pemusik diminta melepas ego masing-masing," ujarnya.

Namun, sebenarnya di situlah ciri big band jazz. Mereka adalah kumpulan ego-ego yang saling mendengar permainan masing-masing kawan. Mereka harus saling mengukur diri agar keharmonisan selalu terjaga. Dan, dengan demikian enak dinikmati. (Herlambang Jaluardi) Foto : 1 Kompas/Arum Tresnaningtyas Dayuputri Margie Segers, penyanyi jazz kawakan Tanah Air, tampil diiringi Salamander Big Band dalam acara ITB Big Band Concert 2008 di Aula Barat ITB, Jalan Ganesha, Bandung, Sabtu (15/11).