JAKARTA,SENIN--Di bawah pemerintahan presiden Amerika Serikat yang baru, Barack Obama, Indonesia bisa ”mencuri” peluang kerja sama dalam kerangka multilateralisme. Di luar kerangka multilateralisme, tidak banyak yang bisa diharapkan Indonesia dari Obama.
Sebagai pribadi, Obama mungkin punya kenangan akan Indonesia. Akan tetapi, sebagai presiden AS, Obama memiliki agenda kepentingan nasional yang harus dipenuhi.
Hal itu mengemuka dalam seminar bertajuk ”Prospek Perdamaian Dunia dan Hubungan Indonesia-AS pada Masa Pemerintahan Presiden Barack Obama”, Senin (17/11) di Universitas Al Azhar, Jakarta. Hadir sebagai pembicara mantan Duta Besar Indonesia untuk PBB Makarim Wibisono, pengamat ekonomi Faisal Basri, mantan Wakil Ketua MPR Letjen (Purn) Agus Widjoyo, dan peneliti CSIS Begi Hersutanto.
Menurut Makarim, Obama memiliki visi keamanan kolektif dalam menghadapi tantangan global. ”Visi perdamaian dunia Obama adalah tantangan global tidak bisa dihadapi sendiri oleh AS, tetapi komunitas internasional juga tidak bisa menghadapi tantangan global tanpa AS,” ujarnya.
Salah satu contoh adalah soal perlucutan senjata nuklir. Dalam perspektif Obama, kata Makarim, AS menghendaki dunia tanpa senjata nuklir walaupun bukan berarti AS mau melucuti dirinya sendiri.
”Inilah saat bagi Indonesia untuk menjadi mitra AS yang mumpuni. Indonesia bisa berperan dengan aktif mengajukan gagasan peta jalan menuju penghapusan senjata nuklir,” kata Makarim.
Faisal mengatakan, Obama tidak sempat memikirkan Indonesia dalam setahun pertama pemerintahannya karena krisis ekonomi di AS. Peran ekonomi AS di dunia cenderung menurun dan tinggal seperlima saja.
”AS hanya pasar ekspor kedua Indonesia. AS pun tidak menempatkan Indonesia sebagai penerima bantuan. AS juga tidak pernah menjadi negara yang sangat penting di sektor investasi. Investasi langsung hanya 2 miliar dollar AS. Bagaimanapun Obama tidak bisa menyuruh investor ke Indonesia karena mereka sendiri sedang terpuruk,” kata Faisal.
Agus Widjoyo berpendapat, AS tidak bisa mengabaikan kepentingan nasionalnya dan memberi perhatian lebih kepada Indonesia. Terlebih, hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa 60 persen warga AS ingin Obama memprioritaskan persoalan dalam negeri dan hanya 20 persen yang menghendaki Obama memikirkan isu luar negeri.
”Hanya dalam forum multilateral Indonesia bisa mengharapkan hubungan yang lebih erat dengan AS,” katanya.
Berbeda dengan pendapat pembicara sebelumnya, Begi Hersutanto menyatakan pesimistis dengan pemerintahan Obama. ”Kita harus melihat siapa orang- orang di belakang Obama karena dia mengemban visi konstituennya. Ada aktivis hak asasi manusia, serikat buruh, dan aktivis lingkungan. Kita harus waspada bahwa ada kondisi-kondisi di Indonesia yang bisa dipolitisasi oleh orang-orang di belakang Obama yang bisa mengganggu keutuhan NKRI,” katanya. (fro)

