Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 10:03 WIB
Partai Demokrat Berpotensi Gerogoti Suara Golkar dan PDI-P
Maya Saputri | Senin, 17 November 2008 | 07:53 WIB
|
Share:

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Pendiri Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, saat kampanye Pemilu 2004.

JAKARTA, SENIN — Sentimen elektoral pemilih dalam tiga tahun terakhir menunjukkan swing voter mencapai 34 persen. Jumlah ini cukup besar untuk mengubah peta kekuatan parpol pada Pemilu 2009, terutama bila partai papan atas tak mampu mengimbangi kekuatan mobilisasi pemilih oleh partai menengah, seperti Demokrat dan Gerindra.

"Swing voter ini muncul karena lemahnya ikatan psikologis atau identifikasi diri pemilih dengan partai politik tertentu. Secara umum, hanya 15 persen dari pemilih Indonesia yang merasa sebagai orang partai tertentu, selebihnya mengambang atau tak punya identitas partai," kata Saeful Mujani, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) saat memaparkan hasil survei LSI di Jakarta, Minggu (16/11).

Ia mengungkapkan, sumber dari tidak adanya identitas partai ini terkait dengan pandangan publik tentang partai secara umum. "Hampir sebagian besar dari pemilih sekitar 44 persen tidak melihat satu pun parpol secara positif. Mereka menilai semua parpol korup," tuturnya.

Perubahan peta kekuatan di partai papan atas, kata Saiful, juga terjadi pada Golkar dan PDI-P yang mengalami penurunan signifikan dalam lima bulan terakhir bila dibandingkan dengan perolehan suara Pemilu 2004. "Partai yang potensial mengubah kekuatan partai papan atas adalah Partai Demokrat, sedangkan tiga partai menengah, yakni PKB, PPP, dan PAN cenderung mengalami kemunduran, tetapi PKS cenderung stagnan," ujar Saiful.

Menurut pengamat komunikasi politik Effendi Ghazali, fenomena swing voter ini menarik, terutama dengan hasil Demokrat mampu menarik swing voter. "Penyebabnya mungkin karena iklan-iklan pemerintah yang juga secara tak langsung mendongkrak popularitas Demokrat atau figur SBY, selain karena swing voter ini memandang dampak krisis masih mampu diredam," katanya.