Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 10:03 WIB
Suara "Swing Voter" Ditentukan Faktor Kondisi Ekonomi
Maya Saputri | Senin, 17 November 2008 | 07:47 WIB
|
Share:

JAKARTA, SENIN — Faktor kondisi ekonomi yang kondusif menjadi penentu merapatnya dukungan pemilih ke partai politik incumbent atau lainnya. Yang lebih menentukan terutama indikator harga atau dalam tataran praktis, bukan pada indikator ekonomi makro.

"Mulai awal 2009, para pemilih akan mulai mempertimbangkan keberhasilan sektor ekonomi sebagai faktor signifikan pemilih akan mendukung partai mana. Kalau ekonomi menurun, maka oposisi yang diuntungkan. Demokrat dan Golkar bisa berkibar bila empat bulan ke depan ekonomi menjadi baik," ujar pengamat politik sekaligus Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan seusai paparan hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) di Jakarta, Minggu (16/11) kemarin.

Ia mengatakan faktor harga barang kebutuhan pokok menjadi isu yang paling krusial. "Sekarang ini Demokrat sedang berhasil melakukan rebound, tapi kan kondisi ekonomi masih naik turun, jadi hasil survei Demokrat didekati swing voter ini belum menentukan," jelas Anies.

Sedangkan menurut Direktur Eksekutif LSI  Saiful Mujani, empat bulan ke depan masih akan naik turun fluktuasi dukungan pemilih ke Demokrat terkait keberhasilan partai incumbent tersebut meminimalisasi dampak krisis. "Swing voter mencapai 34 persen dan ada kemungkinan mereka saat ini diikutkan sebagai responden merasa bahwa dampak krisis ekonomi masih bisa dihadapi dengan penuh keyakinan, entah beberapa bulan ke depan. Ini peluang bagi partai incumbent untuk memanfaatkan isu ekonomi untuk menjaring mereka, kalau tidak mau mereka diambil oposisi," ungkapnya.

Isu ekonomi, dikatakan Saiful, lebih diperhatikan daripada pemberantasan korupsi terutama bagi para swing voter.