Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 10:01 WIB
Jelang Pemilu, "Swing Voter" PDI-P Melorot Tajam
Maya Saputri | Minggu, 16 November 2008 | 14:38 WIB
|
Share:

JAKARTA, MINGGUSwing voter atau perilaku pemilih yang tidak terikat oleh sebuah partai politik dalam kurun waktu cukup lama diperkirakan akan menjadi tantangan pada tujuh partai papan menengah dan atas. Swing voter negatif dengan kecenderungan ditinggalkan pemilihnya terjadi pada PDI-P dan Golkar, yakni masing-masing 14 persen dan 16 persen.

Hal itu dikatakan oleh Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Saiful Mujani di kantornya, Jalan Lembang Terusan, Jakarta, Minggu (16/11). Dalam pertemuan tersebut, juga dihadiri pengamat komunikasi politik dari UI, Effendi Ghazali, dan Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan.

"Kalau dibandingkan dengan hasil survei lima bulan lalu, yakni Juni 2008, PDI-P dan Golkar mengalami penurunan dukungan sebesar masing-masing 10 persen dan 4 persen. Hasil survei ini dibandingkan dengan perolehan suara 2004, penurunan dukungan keduanya mencapai PDI-P turun hingga 4,5 persen dan Golkar sebesar 6 persen," kata Saiful.

Sebelumnya, pada pemilu 1999-2004 swing voter mencapai 37 persen pada tujuh partai besar, tetapi swing voter PDI-P merosot dari 34 persen menjadi 18,5 persen dengan kecenderungan pemilih meninggalkannya. "Swing voter negatif besar dengan kecenderungan pemilih beralih ke partai lain, yakni PKB dan PPP sekitar 3 persen, sedangkan Golkar dan PAN jumlah swing voter negatif relatif lebih kecil, sekitar 1 persen," ujar Saiful.

Yang menarik, menurut Saiful, dalam survei November 2008, hanya partai Demokrat yang mengalami kenaikan swing voter positif sebesar 8 persen. "Demokrat mengalami kenaikan sebesar 10 persen, itu berdasarkan hasil survei bulan ini dibandingkan dengan Pemilu 2004," kata Saiful.

Saiful mengatakan, dalam tiga tahun terakhir terjadi perubahan sentimen politik pemilih pada partai politik di papan atas akibat kecenderungan swing voter. "Hal seperti ini telah terjadi empat kali dan Golkar tak lagi memimpin. Fluktuasi dukungan ini menunjukkan swing voter sangat besar menjelang Pemilu 2009 dan partai papan atas mendapat tantangan paling keras," ujarnya.

Survei ini dilakukan LSI dengan jumlah sampel 2.197 responden dari populasi WNI di seluruh Indonesia yang memiliki hak pilih. Metode survei dilakukan dengan wawancara tatap muka pada 26 Oktober-5 November 2008.