SOLO, JUMAT--Sutradara dan politikus Erros Djarot, yang berencana membuat film terbaru berjudul "Lastri" di Kota Solo, gagal melaksanakannya karena hingga saat ini pihak kepolisian dan pemerintah daerah (pemda) setempat belum mengeluarkan izin untuk pengambilan gambar kawasan tersebut.
"Shooting belum dilakukan, karena surat izinnya dari pihak kepolisian setempat belum keluar. Film Lastri dinilai menyebarkan paham komunis," kata Erros Djarot di Solo, Kamis.
Menurut dia, pihaknya sudah menunggu selama sembilan hari di Solo, hanya untuk mendapatkan kepastian. Kalau memang tidak diizinkan, maka rombonganya akan pulang. "Ini seperti kembali lagi ke jaman Orde Baru saja," katanya.
Ia mengaku, ke Solo dengan membawa serta kru serta artis yang akan bermain dalam film "Lastri" yang menggambarkan situasi pada zaman Partai Komunis Indonesia (PKI) ada di Indonesia.
Menurut rencana syuting akan dilakukan di beberapa lokasi, antara lain di Wedi Klaten, Colomadu Karanganyar, dan di Pasar Gede Solo. "Tapi, semuanya hingga saat ini belum berjalan gara-gara tak ada izin," katanya.
Menurut dia, ditambah adanya selebaran yang beredar berisikan tuduhan, bahwa film ini akan menyebarkan paham komunis, tampaknya izin akan lebih sulit didapat.
Selain itu, juga muncul surat yang mengatasnamakan anggota masyarakat yang ditujukan kepada Pemerintah Daerah setempat yang intinya menolak syuting film tersebut dibuat di wilayah mereka.
Tuduhan tersebut, kata Erros, sangat menyakitkan, sejak dulu dirinya 100 persen nasionalis-Pancasilais. Tuduhan itu, hanya mengada-ada.
"Mereka tidak berhak menuduh seperti itu. Sebab saat ini film tersebut belum selesai dibuat dan yang berhak menentukan film tersebut layak atau tidak adalah Badan Sensor Film."
Mengenai surat izin dari pusat sudah ada dan ditandatangani oleh Kepala Badan Intelen Keamanan Kabid Yamin Kombes Pol Edy Janto dari Mabes Polri tertanggal 28 Agustus 2008.
Menurut dia, film Lastri tersebut murni bertema cinta, artisnya Iga Mawarni dan Lukman Sardi dengan mengambil latar waktu suasana era tahun 1965 atau zaman PKI masih ada di Indonesia.
Seputar kisah percintaan antara dua insan yang berbeda salah satunya seorang gerwani yang saat tahun 1965 dianggap kelompok PKI dan anggota Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI). Namun dalam perjalan cintanya terjadi melibatkan seorang pria yang berdinas sebagai TNI.
"Saya berharap ada dukungan dari seniman dan komunitas seni di Kota Solo," kata Erros yang juga Ketua Umum Partai Nasionalis Banteng Kerakyatan Indonesia (PNBKI).
Kapoltabes Solo Kombes Pol Ahmad Sukrani melalui Kasat Intelkam Poltabes Solo Kompol Jaka Wibawa, mengatakan, kalau materinya dalam film berbeda dengan di lapangan. Hal itu, diketahui setelah klarifikasi ke Mabes Polri.
"Izin awalnya percintaan, tapi ditemukan di lapangan berbeda dan ada nuansa semacam itu. Terpaksa kita belum bisa memberi ijin, " katanya. (ANT)

