Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 16:29 WIB
Demokrasi "Paman Sam" di Mata Publik Indonesia
| Kamis, 13 November 2008 | 06:08 WIB
|
Share:

(Getty Images/Joe Raedle)
Barack Obama menyapa sejumlah orang saat berkampanye di Mack's Apples, Londonderry, New Hampshire, 16 Oktober 2008.

TERKAIT:

Pemilihan Presiden Amerika Serikat menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat Indonesia. Berbagai kalangan, tua-muda, laki-laki-perempuan, pendidikan tinggi-rendah, antusias mengikuti pemberitaan tentang pemilu di Amerika Serikat.

Antusiasme itu ditangkap oleh jajak pendapat Litbang Kompas yang dilakukan sehari setelah Pemilu Amerika Serikat digelar 4 November lalu. Sebanyak 91,5 persen responden mengaku mengikuti pemberitaan pesta demokrasi di Negeri Paman Sam itu lewat media massa. Bahkan, 35,9 persen tidak mau ketinggalan berita barang sehari pun, merasa perlu untuk mengikutinya setiap hari.

Jika dilihat lebih jauh, ketertarikan untuk mengikuti pemberitaan pemilu di negara yang dijuluki ”adidaya” dan pelopor demokrasi ini merata di semua kalangan meskipun dengan derajat ketertarikan yang berbeda- beda. Laki-laki dan perempuan, misalnya, sama-sama menyukai pemberitaan Pemilu Amerika Serikat, tetapi terlihat bahwa proporsi jumlah laki-laki lebih banyak yang mengikuti.

Dilihat dari sisi pendidikan, makin tinggi pendidikan responden, makin intens mengikuti pemberitaan media tentang Pemilu Amerika Serikat. Sementara usia tidak berpengaruh pada ketertarikan mengikuti pemberitaan momen bersejarah di Amerika Serikat. Ini artinya, Pemilu Amerika Serikat menjadi konsumsi publik Indonesia, baik tua maupun muda.

Pidato kemenangan Barack Obama yang disiarkan, oleh televisi asing dan lokal, juga menjadi klimaks pemilu yang menarik untuk ditonton. Sebanyak 57,3 persen responden menyempatkan diri menontonnya pada 5 November, baik yang disiarkan langsung maupun tidak langsung oleh stasiun televisi.

Selain saat pemilu dan pengumuman pemenang, 88,7 persen responden juga menganggap proses pemilihan yang dijalani, mulai dari pencalonan lewat pemilu pendahuluan hingga penetapan calon dalam konvensi, menarik untuk diikuti. Demikian juga dengan debat calon presiden Amerika Serikat, diakui oleh 85,1 persen responden telah menyajikan sebuah tontonan yang menarik.

Dengan semua rangkaian pemilu yang telah berlangsung, Amerika telah menampilkan sebuah pergelaran demokrasi yang elegan. Penghargaan kepada lawan politik oleh Obama dan pengakuan kekalahan oleh McCain yang diberikan oleh kedua kandidat seusai pertarungan menjadi pameran demokrasi dan etika politik yang menarik.

Pesta Pemilu Amerika Serikat membuat 89,2 persen responden menilainya sebagai sebuah perhelatan pemilu yang demokratis, bahkan 39,7 persen menilainya sangat demokratis. Penilaian ini tidak berbeda antara mereka yang sudah pernah pergi ke Amerika Serikat dan yang belum pernah menginjakkan kaki di sana.

Yakin berubah

Dukungan terhadap kemenangan Obama juga tecermin dari jajak pendapat ini. Pascapencoblosan, Obama dinilai layak menang atas McCain oleh 87,7 persen responden. Hanya 4,8 persen responden yang menilai sebaliknya.

Kemenangan Obama memberi harapan baru bagi publik Indonesia. Presiden pertama Amerika Serikat berkulit hitam yang meraih kemenangan dari dua sisi ini, suara pemilih (Popular Vote) dan Electoral College, diyakini dapat mengatasi krisis keuangan di negara yang dipimpinnya. Dengan demikian, imbasnya ke negara-negara lain, termasuk Indonesia, tidak berlarut-larut.

Obama juga dinilai dapat membawa perubahan pada beberapa problem internasional yang dihadapi dunia saat ini. Masalah-masalah seperti terorisme internasional diyakini akan dapat ditangani lebih baik dengan terpilihnya Obama yang berasal dari Partai Demokrat. Keyakinan ini disampaikan oleh 58,3 persen responden.

Perdamaian dunia yang terancam, di antaranya oleh agresi negara Amerika Serikat ke Afganistan dan Irak, juga diyakini (oleh 75,7 persen responden) akan pulih di tangan ”sosok global” seperti Obama, yang lahir dan dibesarkan dalam lingkup multirasial dan multikultural.

Salah satu program Obama, yakni menarik pasukan dari negara yang diduduki Amerika Serikat, tampaknya membuat publik yakin akan masa depan perdamaian yang lebih baik di dunia, khususnya antara Amerika dan negara-negara Islam.

Publik juga yakin pada masa mendatang hubungan Amerika Serikat dengan Indonesia akan semakin erat. Selain kapasitas pribadi dan latar belakangnya, kaitan historis sosok presiden baru ini dengan masa kecilnya di Indonesia membuat publik yakin Obama akan meningkatkan hubungan Amerika Serikat dengan negara Indonesia, yang pernah memberinya warna pada masa kanak-kanaknya.

Sumber :
Kompas Cetak