SUKOHARJO, RABU - Produsen barang-barang ekspor, terutama ke Amerika Serikat (AS) dan Eropa, mengalami penurunan permintaan. Akibatnya pada waktu-waktu terakhir mereka mulai melakukan PHK karyawannya. Perbankan yang memberikan pinjaman kepada para eksportir diminta mulai mengantisipasi meningkatnya angka kredit macet.
Ini diungkapkan ekonom dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof Dr Bambang Setiaji, Rabu (12/11).
"Saya bertemu pemilik perusahaan mebel yang biasanya mendapat pesanan 80 kontainer sekarang hanya 8 kontainer. Ia akan mempertahankan karyawannya selama tiga bulan, setelah itu akan di-PHK karena tidak adanya pesanan," kata Bambang yang juga rektor UMS.
Menurut Bambang, kinerja ekspor saat ini mulai terganggu menyusul terjadinya krisis keuangan global. Data Dinas Perindustrian Perdagangan dan Penanaman Modal Kota Solo menyebutkan, volum ekspor dari Kota Solo selama Oktober 2008 sebesar 583.184 kilogram dengan nilai 2,4 juta dolar AS. Pada bulan September, volum ekspor 1,04 juta kilogram dengan nilai 3,9 juta dolar AS.
Realisasi ekspor dari enam kabupaten di wilayah eks Karesidenan Surakarta juga menurun. Volum ekspor selama Oktober sebesar 5,5 juta kil ogram dengan nilai 22 juta dolar AS. Pada September, volum mencapai 7,6 juta kilogram dengan nilai 24,9 juta dolar AS.

