JAKARTA, SELASA - Kritikan terhadap iklan politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam memperingat Hari Pahlawan dengan menampilkan mantan presiden Soekarno dan Soeharto mendapat tanggapan mantan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Prof Dr Haryono Suyono.
Kepada Rico, reporter Radio Sonora, Haryono mengatakan dirinya melihat dari sisi positifnya. "Setiap kali saya ke desa, orang selalu menyatakan merindukan masa lalu. Setiap orang ada kesalahan. Kesalahan Pak Harto di masa lalu bukan kesalahan perseorangan, karena Pak Harto dibantu DPR, MPR dan juga para menteri waktu itu. Jadi sekarang kalau kita melihat secara positif, kita kembalikan persoalan ini sebagai sebuah model persatuan dan kesatuan. Lebih-lebih ini Hari Pahlawan. Pahlawan itu juga tidak sempurna. Kalau sempurna, ya kayak Gusti Allah," katanya, Selasa (11/11).
Ketika ditanyakan bagaimana rakyat memahami persoalan pahlawan bagi Soeharto, Haryono menjawab dengan memberi contoh. "Kemarin Pak Natsir diberi gelar pahlawan, padahal pemberontak. Ya sudahlah, bagaimana juga Pak Natsir itu kan perdana menteri pertama, sesepuh kita. Kalau kita anggap sebagai pahlawan, ya kita anggap sebagai sebuah proses rekonsiliasi bangsa," ujar mantan Menko Kesra ini.
Mengenai perdebatan soal gelar pahlawan bagi Soeharto, Haryono menjawab, "Kan ada anggapan, mikul dhuwue mendhem jero, ya sudahlah. Bangsa ini kan ingin menapak dalam keadaan bersatu semua harus ikhlas dan legowo. Kita mulai lembaran baru. Kita catat dalam sejarah, mungkin sebagai sejarah yang putih bersih tapi ada juga noda hitam. Yang salah tidak hilang, yang betul diteruskan. Karena anak bangsa ini semakin lama semakin maju, pintar dan cekatan."

