Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 09:49 WIB
5 Negara Bantu Sistem Tsunami Indonesia
Inggried Dwi Wedhaswary | Selasa, 11 November 2008 | 10:18 WIB
|
Share:

Kompas/Lasti Kurnia
Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menaikkan alat apung sistem penaksiran dan pelaporan tsunami di laut dalam (DART), hasil kerja sama Indonesia-Amerika, ke dalam Kapal Riset Baruna Jaya IV di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (10/6). Alat deteksi tsunami tersebut akan dilepas di perairan selatan Pulau Bali dan menjadi alat deteksi tsunami keenam yang dipasang BPPT.

TERKAIT:

JAKARTA, SELASA - Tepat pukul 11.00, Selasa (11/11), Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan meluncurkan sistem peringatan dini tsunami (Indonesia Tsunami Early Warning System / InaTEWS) di Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Jakarta.

Kepala BMKG Sri Woro B. Harijono mengatakan, selain melibatkan 18 institusi pemerintah, juga didukung secara finansial dan teknologi oleh 5 negara donor."Keseriusan Indonesia membangun sistem peringatan dini, mengundang dukungan dari 5 negara donor yaitu Jerman, Cina, Jepang, Amerika Serikat dan Perancis," kata Woro dalam sambutannya.

Dikatakan Woro, secara internasional keberadaan InaTEWS menjadi sarana pemerintah Indonesia untuk berkontribusi secara aktif di kancah Internasinal dalam melindungi masyarakat baik kawasan Samudera India maupun Samudera Pasifik dari ancaman bahaya tsunami.

Hingga saat ini, informasi peringatan dini tsunami di Indonesia masih bertumpu dari hasil pemantauan seismik yang diperoleh dari jaringan seismik InaTEWS yang berpusat di Kantor BMKG, Jakarta.

Untuk menghindari adanya tindakan vandalisme terhadap alat yang dipasang, menurut Woro, BPPT telah melakukan koordinasi dengan pemda setempat, dan perhimpunan nelayan.

Alat ini akan beroperasi selama 24 jam dan masih terus dalam tahapan pengembangan. "Ini baru tahap awal, akan kami kembangkan terus,"ujar Woro.

Sementara itu, Anggota Parlemen Jerman, Thomas Rachel mengatakan, dalam dua tahun kedepan, ilmuwan Jerman dan Indonesia akan terus mengembangkan dan mengoptimalkan teknologi tersebut. "Penyerahan sepenuhnya kepada pihak Indonesia, direncanakan akan dilakukan tahun 2010," kata Rachel.