Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 16:15 WIB
Jutaan Warga Zimbabwe Terancam Mati Kelaparan
Tri Mulyono | Senin, 10 November 2008 | 05:09 WIB
|
Share:

EPA
Seorang warga Zimbabwe memegang uang nominal 10.000 dollar Zimbabwe dan 20.000 dollar Zimbabwe yang baru di Harare, 29 September. Bank Sentral Zimbabwe menarik uang nominal 1.000 dollar Zimbabwe karena tidak banyak berfungsi di tengah hiperinflasi 11,2 juta persen.

TERKAIT:

JOHANNESBURG,SENIN-Partai oposisi di Zimbabwe memperingatkan bahwa paling tidak sejuta warga Zimbabwe bisa mati kelaparan dalam waktu setahun mendatang karena kebuntuan politik.

Seruan itu disampaikan pemimpin partai MDC (Gerakan Demokratis bagi Perubahan), Morgan Tsvangirai dalam pertemuan pemimpin negara-negara Afrika bagian Selatan di Johannesburg, Minggu (9/11). Konferensi tingkat tinggi ini juga membahas krisis yang terjadi di Republik Demokratik Kongo.

Sayangnya, sejumlah pihak pesimistis, pertemuan itu akan berdampak. Ketika hanya lima orang kepala neegara yang hadir dari 15 orang yang diundang. Ke-10 negara lain mengirimkan pejabat-pejabat rendah sebagai wakil mereka.

Presiden Afrika Selatan yang baru, Kgalema Motlanthe yang mengetuai pertemuan Masyarakat Pembangunan Afrika bagian Selatan mendesak kedua belah pihak di Zimbabwe, yang dulu bernama Rhodesia itu, untuk menunjukkan 'kematangan politik' dan melaksanakan kesepakatan yang dicapai setelah perselisihan mengenai hasil pemilu.

Dia mengatakan: "Kepemimpinan politik di Zimbabwe berutang pada rakyat Zimbabwe untuk menunjukkan kematangan politik dengan pertama-tama mengedepankan kepentingan Zimbabwe."

Seperti diketahui, delapan minggu setelah tercapai kesepakatan pembagian kekuasaan, MDC dan Presiden Robert Mugabe masih belum mencapai kata sepakat mengenai susunan kabinet baru.  Hal yang paling mengganjal adalah posisi menteri dalam negeri, yaitu jabatan yang bertanggung-jawab atas kepolisian.

Zimbabwe sedang menghadapi kekurangan makan an yang serius dan inflasi yang gila-gilaan tingginya, tetapi tak satu pihakpun yang tampak ingin kompromi. Konferensi tingkat tinggi ini dilakukan setelah pertemuan yang lebih kecil di akhir bulan Oktober lalu yang berakhir tanpa hasil apapun.

Sumber :