SEMARANG, JUMAT - Pemerintah Kota Semarang mulai menggencarkan sterilisasi wilayah yang memiliki risiko tinggi terhadap persebaran virus flu burung (avian influenza/AI), yaitu virus H5N1. Hal ini menyusul meninggalnya seorang pasien terduga flu burung di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Sterilisasi segera dilakukan oleh tim dari Dinas Pertanian Kota Semarang di lingkungan sekitar tempat tinggal korban di Kelurahan Siwalan, Gayamsari, Kora Semarang, Jumat (7/11) . Korban bernama Dewi Sartika (15) yang sebelumnya diduga menderita flu burung meninggal di RS dr Kariadi Semarang pukul 05.00 kemarin.
Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kota Semarang Totok Susanto mengatakan, lingkungan tempat tinggal korban berpontensi menyebarkan virus flu burung karena terdapat tempat pemotongan ayam. "Tempat-tempat seperti ini, atau pusat unggas lain seperti pasar burung sangat rentan menjadi wilayah endemik," kata Totok.
Pensterilan dilakukan dengan menyemprot daerah itu dalam radius 500 meter dari tempat pemotongan unggas dengan cairan desinfektan. Totok menambahkan, intensitas dan frekuensi sterilisasi akan terus ditambah sesuai dengan temuan kasus dan karakteristik wilayah.
"Kami bahkan memberikan dengan gratis obatnya. Sehingga bagi masyarakat yang tinggal dekat dengan unggas, dapat mengambil obat tersebut di Dinas Pertanian," kata Totok.
Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Bersumber Binatang Dinas Kesehatan Kota Semarang, Sri Ani Handayani mengatakan, pihaknya akan mengambil sampel darah beberapa orang yang pernah melakukan kontak dengan unggas di wilayah itu. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi terjatuhnya korban-korban berikutnya.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan paru-paru yang menangani kasus korban terduga flu burung, Agus Suryanto, menyebutkan kondisi pasien memang terus memburuk sejak dirujuk ke RS dr Kariadi Senin lalu. Selain itu, gejala-gejala yang ditampakkan sangat kuat mengarah pada flu burung.
Tetapi tetap ada kemungkinan pasien tidak menderita flu burung karena banyak penyakit lain yang memiliki gejala serupa, demam, batuk dan sakit pada saluran pernapasan. "Untuk memastikan, kami tinggal menunggu hasil pemeriksaan dari laboratorium di Jakarta. sampel darah ketiga sudah kami kirim," kata Agus.
