JAKARTA, RABU- Selisih harga yang hanya Rp 1.000 per liter membuat bahan bakar nonsubsidi seperti Pertamax, Primax, dan Super yang dulu hanya dibeli kalangan menengah atas, kini mulai "diserbu" kalangan menengah bawah.
Pengendara sepeda motor pun tak sedikit mengisi BBM di SPBU asing macam Shell dan Petronas. Bahkan ada juga tukang ojek yang biasanya beli premium di SPBU Pertamina atau di kios BBM eceran.
"Dulu gak berani ngisi di Shell apalagi Petronas, kan pelanggannya mobil-mobil semua. Sekarang harga turun, kesempatan mencoba pertamax Shell (Super) yang harganya sama dengan (pertamax) Pertamina Rp 7.000 per liter," ujar Mardi (48), tukang ojek yang biasa mangkal di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (5/11) petang.
Sejak harga BBM nonsubsidi turun sampai Rp 7.000 awal Nopember lalu, dia mengaku lebih senang mengisi pertamax. "Kalau di Shell baru sekarang ini. Tadi juga kebetulan lewat setelah mengantar pelanggan. Lumayan irit, cuma beda seribu rupiah tapi bisa untuk 3 hari. Biasanya kalau lagi ramai pake premium cuma bertahan 2 hari lalu harus ngisi lagi," jelas bapak lima anak yang tinggal di Tebet, Jakarta selatan ini.
Alasan ia beralih memakai pertamax selain irit juga karena memanfaatkan momen. "Ya kan mumpung harga turun, masih terjangkaulah, apalagi kalau lagi ramai gak masalah. Nanti kalau sudah naik lagi kan gak bisa ngerasain pernah ngisi pertamax elit," tutur pria jangkung itu diiringi tawa renyah.
"Kalau saya ini kan ya cuma ikut seneng kalau harga lagi turun, pendapatan kan gak pasti, jadi ya harus nyisihin uang. Pas lagi ramai bisa mencapai Rp 100.000, tapi pernah juga cuman dapet Rp 10.000 seharian mangkal," katanya.
Mardi berharap harga premium bisa turun di bawah harga pertamax yang tanpa subsidi. "Ya masak yang kaum berduit gak disubsidi tapi BBM-nya cuma beda seribu ma kita-kita yang untuk makan aja mesti mikir. Mana keadilan pemerintah," keluhnya.
