Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 16:04 WIB
Rieke: Kenapa Kami Diributkan?
Johnson Simanjuntak | Rabu, 5 November 2008 | 18:58 WIB
|
Share:

PERILAKU berpolitik di Indonesia dinilai aneh oleh para pekerja seni (artis). Adalah Rieke "Oneng" Dyah Pitaloka, mempertanyakan kenapa para artis yang mencalonkan diri jadi anggota DPR selalu diributkan, dengan bermacam-macam alasan seperti tidak pantas, nanti bisa apa dia. Padahal banyak di antara pendiri dan petinggi partai yang pernah melanggar hak asasi manusia (HAM), justru didiamkan saja seolah-olah mereka saja yang pantas duduk di DPR.

"Saya menggugat sebagai artis. Apa salah kami jika kami ikut berpartisipasi dalam pemilu? Kami kan juga punya hak untuk bisa duduk di parlemen. Mengapa, para pendiri dan petinggi partai yang jelas-jelas sudah melakukan pelanggaran HAM misalnya, tidak pernah diributkan kiprahnya?" tandas Rieke Dyah Pitaloka dengan nada tinggi, dalam diskusi bertema "Persaingan Menuju Senayan", di DPD RI, Jakarta, Rabu (5/11).

Padahal, kata Rieke yang dulu sempat di PKB sebelum hijrah ke PDIP, hukum sama sekali tidak membatasi hak dan kewajiban artis untuk berpartisipasi di bidang politik. Tapi yang mengherankan kenapa para pengamat cenderung menilai negatif kehadiran para artis di panggung politik.

Rieke, yang ogah nama terkenalnya, Oneng yang berkarakter oon (bloon,red), disebut-sebut selama bicara politik mengatakan, mestinya, para pengamat harus lebih cermat dan cerdas dalam menyikapi fenomena munculnya para pendiri dan petinggi partai yang diduga kuat sudah melanggar hukum.

"Jadi kenapa harus kami yang jadi sorotan yang sama sekali tidak mempunyai cacat hukum," tegas Rieke, caleg DPR RI dari PDIP dapil Jabar II itu. Di tempat yang sama, artis Tantowi Yahya, yang diusung Partai Golkar untuk DPR RI dari dapil Sumsel II, mengaku keterlibatannya dengan Partai Golkar bermula dari keinginannya sendiri. Bermula tahun 1997, dirinya secara resmi melamar ke Partai Golkar. Sehingga tidak benar kalau dirinya kader karbitan karena prosesnya dimulai dari bawah dan bukan sekedar ikut-ikutan.

Tantowi mengakui, tantangan Pemilu 2009 jauh lebih berat dibanding dengan pemilu 1999 dan 2004. Kalau pemilu sebelumnya berdasarkan nomor urut, sementara Pemilu 2009 berdasarkan suara terbanyak.

"Sekarang ini partai peserta pemilu sangat banyak, jadi persaingannya sangat ketat, " ujar Tantowi.

Sumber :
Persda Network