Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 16:02 WIB
Selamat Tinggal Styrofoam Beracun
Caroline Damanik | Rabu, 5 November 2008 | 17:46 WIB
|
Share:
CAROLINE DAMANIK
Naruhot, teknologi kemasan makanan plastik dari bahan food grade yang ramah untuk kesehatan manusia dipamerkan di stan Sojitz Indonesia dalam Indonesia-Japan Expo 2008 di JIExpo Kemayoran, Rabu (5/11).
Foto:

JAKARTA, RABU - Hadirnya produk kemasan makan an plastik food grade bisa saja akan menggantikan styrofoam beracun yang selama ini masih banyak digunakan sebagai kamasan makan an. Kemasan makan an plastik tersebut bukan hanya aman untuk membungkus makan an yang masih panas, tapi bahkan dapat digunakan untuk memanaskan makan an di dalamnya dan mempertahankan panasnya.

Kemasan makan an plastik yang dikembangkan perusahaan jepang Sojitz ini diberi nama Naruhot. Teknologi ini sudah dipakai oleh ragam rumah makan dan usaha kuliner di Jepang. Namun di Indonesia, Sojitz masih berusaha memasarkannya, baik produk ataupun konsep teknologinya.

Naruhot terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian luar yang terbuat dari styrofoam tebal, bagian wadah plastik food grade serta tutup kemasan. Di bagian luar ini, styrofoam dilengkapi dengan semacam kantung kertas yang berisi kapur dan mineral yang dilengkapi benang yang terjulur ke luar.

Ketika benang ditarik dan makan an diletakkan di wadah plastik food grade, maka dengan sendirinya reaksi kimia kapur dan mineral akan menimbulkan pemanasan sehingga makan an yang ada di dalamnya menjadi hangat dan siap untuk disantap setelah 5-6 menit. Naruhot sendiri bisa menjaga makan an tetap hangat selama 30 menit.

Tentu saja, teknologi ini menjadi alternatif sederhana dari mesin penghangat makan an microwave. Simpelnya, ini bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Di Jepang, saat ini, Naruhot dibandrol dengan harga sekitar 1-2 dollar AS per buah.

Era styrofoam sudah mulai beralih di Jepang karena diragukan keramahannya terhadap kesehatan manusia. Akankah era plastik food grade akan menggantikannya, bahkan di Indonesia? Kita lihat saja.