JAKARTA, KOMPAS - Musim hujan mulai terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia yang menjadi sentra produksi beras. Oleh karena itu, pemerintah daerah diminta menyebar peta anjuran musim tanam agar petani bisa segera mengolah lahannya dan menanam padi. Iklim pada 2008/2009 diperkirakan normal.
Direktur Jenderal Tanaman Pangan Departemen Pertanian, Sutarto Alimoeso, Selasa (4/11) di Jakarta, mengungkapkan, di Pulau Jawa hujan mulai berlangsung dari sebelah barat, mulai dari Pandeglang (Banten) menyusuri wilayah tengah dan selatan hingga ke Batang, Temanggung, dan Bantul (Jawa Tengah).
”Hanya di wilayah pantura Jawa Barat, mulai Bekasi hingga Brebes, hujan baru akan terjadi pada dasawarsa pertama bulan November 2008,” kata Sutarto.
Adapun di wilayah Jawa Timur, yang merupakan produsen utama beras nasional, hujan mulai turun awal November, kecuali di Banyuwangi, hujan terjadi lebih awal, yaitu pada 10 hari pertama Oktober. Oleh karena itu, diharapkan di Jawa Timur musim tanam serempak pada pertengahan November.
Pada musim tanam 2008/2009 pemerintah menargetkan luas tanaman padi 12,698 juta hektar, dengan sasaran panen 12,447 juta hektar. Produktivitas per hektar diharapkan mencapai 5,1 ton gabah kering giling (GKG) sehingga produksi padi nasional ditargetkan meningkat dari 60,28 juta ton menjadi 63,525 juta ton GKG.
Provinsi yang akan menjadi andalan produksi beras nasional, antara lain, adalah Jawa Barat (luas tanam 1,879 juta ha), Jawa Timur (1,787 juta ha), Jawa Tengah (1,695 juta ha), Sulawesi Selatan (0,882 juta ha), Sumatera Utara (0,764 juta ha), Sumatera Selatan (0,699 juta ha), Lampung (0,525 juta ha), dan Kalimantan Selatan (0,520 juta ha).
Adapun provinsi dengan luas tanam kurang dari 500.000 hektar dan di atas 200.000 hektar adalah Sumatera Barat, NAD, Banten, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Tengah.
Persoalan pupuk
Menjelang musim tanam, menurut Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir, ketersediaan pupuk menjadi persoalan yang serius. Sebagian besar petani yang sudah mulai tanam kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi.
”Pemerintah harus segera mencari solusi agar, saat musim tanam serentak berlangsung, pupuk tetap tersedia,” katanya.
Masa transisi distribusi pupuk bersubsidi dari sistem terbuka ke sistem tertutup harus disertai kebijakan yang memihak petani. Misalnya, melakukan relokasi atau memanfaatkan cadangan pupuk nasional.
Manajer Perencanaan Pengembangan dan Sinergi Pemasaran PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Subhan menyatakan, ketersediaan pupuk untuk kebutuhan musim tanam rendeng melimpah di gudang.
Stok pupuk urea di gudang lini III, atau di gudang kabupaten, per 27 Oktober mencapai 628.141 ton. Jumlah itu sama dengan 329 persen di atas ketentuan stok, yaitu 191.041 ton.
Adapun stok pupuk jenis superphos, pengganti SP-36, sebanyak 37.046 ton atau 120 persen, stok ZA 74.768 ton atau 313 persen, dan NPK 60.705 ton atau 173 persen. ”Melihat posisi stok yang melimpah, ketersediaan pupuk menjelang musim tanam rendeng dijamin cukup,” katanya. (MAS)
