Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 15:50 WIB
Waspadai 75 Juta Suara Mengambang
| Selasa, 4 November 2008 | 07:20 WIB
|
Share:

WASHINGTON,SELASA-Pemilih mengambang menjadi perhatian serius di detik-detik menjelang Pemilu AS, 4 November 2008. Di kubu Barack Obama, calon presiden dari Partai Demokrat, pemilih golongan ini perlu diwaspadai. Sementara bagi kubu calon presiden dari Partai Republik, John McCain, pemilih mengambang memberi harapan baru akan kemenangan. Ke mana suara pemilih mengambang akan bermuara?

Kolumnis terkemuka, Jonathan Alter, dalam kolomnya di majalah Newsweek edisi 3 November 2008 secara spesifik menyebut pemilih mengambang sebagai pemilih dengan informasi yang minim (low-information voter/LIV). Jumlah mereka diperkirakan cukup besar, mencapai tiga perlima dari jumlah pemilih dalam pemilu AS, sekitar 75 juta orang. Mereka ini yang tidak memberikan suaranya dalam pemilu pendahuluan.

Mereka tidak membaca berita di surat kabar dan majalah, tidak melihat televisi, dengan latar belakang sosial-ekonomi beragam. Mereka bisa saja merupakan kaum yang sama sekali tidak tertarik pada politik, atau sebaliknya, sangat tertarik pada politik.

Karena alasan masing-masing itu, mereka belum benar-benar menentukan pilihannya hingga saat mereka mencoblos pada hari pemilu. Beberapa juta di antaranya memilih mendukung Obama pada September-Oktober lalu, khususnya setelah Obama meraih kemenangan dalam debatnya melawan McCain.

Namun, dalam sepekan terakhir, tak sedikit dari mereka yang beralih memilih McCain. Alasan paling sederhana sekaligus mengejutkan adalah karena Obama berkulit hitam, sementara McCain berkulit putih. Penelitian yang dilakukan kantor berita Associated Press pada Oktober ini menunjukkan, keunggulan Obama masih sekitar 6 persen. Persentase itu semakin kecil, jelas memberi harapan bagi McCain untuk bersaing, bahkan memenangi pemilu termahal dalam sejarah AS ini.

”Tidak ada yang dapat memastikan selisih itu pada hari pemilihan. Jika semakin besar, tidak ada masalah (bagi Obama). Tapi, jika semakin kecil, jelas masalah besar,” kata Curtis Gans, Direktur Pusat Studi Pemilu AS di Universitas Amerika di Washington.

Sinyal kekhawatiran dari kubu Obama keluar akhir pekan lalu dari mulut sang istri, Michelle Obama. Dalam siaran radio mingguan milik Demokrat, dia meyakinkan para pemilih Obama.

”Kita tidak bisa melihat ke belakang, lalu meramal yang akan terjadi di masa depan. Maka, datangi tetangga-tetangga, dengarkan keluhan mereka. Bantulah sebisa mungkin. Lalu, yakinkan mereka akan memilih sesuai pilihan kalian pada Obama,” kata Michelle.

Di sisi lain, kaum Republik semakin semangat menarik perhatian. ”Kami bekerja siang-malam dan di hari terakhir kampanye, kami mengerahkan seluruh tenaga dan sumber daya, menghubungi pemilih sebanyak mungkin melalui surat, telepon, iklan, dan e-mail,” kata pasangan McCain menuju Gedung Putih, Sarah Palin.

Sejumlah jajak pendapat dalam beberapa hari terakhir setidaknya memberi gambaran bahwa suara para pemilih mengambang itu memang mengarah pada McCain. Jika sebelumnya unggul di atas atau maksimal 6 persen, menurut laporan mingguan RealClearPolitics, selisih keunggulan Obama kian mengecil. Pada pertengahan pekan lalu, Obama hanya unggul 50,3 persen atas McCain yang mendapat dukungan 44,1 persen responden. Dengan jumlah pemilih yang belum menentukan pilihan atas keduanya, keunggulan turun menjadi sekitar 5,5 persen.

Muara suara pemilih mengambang diperkirakan akan sangat memengaruhi perolehan suara pemilih di negara-negara bagian yang bukan ”milik” Obama maupun McCain. Di Florida, misalnya, selisih keunggulan Obama tinggal 1,9 persen, yakni 47,7 persen terhadap 45,8 persen. Kedua calon bertarung sengit di negara bagian yang mempunyai 27 dari total 279 electoral votes untuk memenangi pertarungan ke Gedung Putih. Bahkan, di Indiana, pertarungan keduanya bakal lebih sengit. Jajak pendapat pertengahan pekan lalu menunjukkan keunggulan Obama sangat tipis, hanya 0,3 persen.

Kubu Obama pun semakin dibuat panik jika teringat sejarah Tom Bradley, seorang Afrika-Amerika yang menjadi kandidat gubernur California tahun 1982. Bradley kalah tipis dalam pertarungan meraih kursi gubernur California meskipun dia selalu unggul dalam berbagai jajak pendapat. Kekalahan Bradley sangat mengejutkan dan sejumlah pengamat menyimpulkan bahwa banyak pemilih kulit putih berbohong soal niat mereka.

Ada beberapa orang yang mengatakan ”Saya bisa memilih seorang kulit hitam” di depan publik. Tetapi, saat masuk ke bilik suara, dia berubah pikiran. Muncul pertanyaan, ke mana suara pemilih mengambang itu sesungguhnya? Tidak ada yang tahu sampai hasil final pemilu 4 November itu diketahui khalayak.
(Benny Dwi Koestanto)

Sumber :
Kompas Cetak