JAKARTA, SENIN - Memanfaatkan gambaran orang miskin dalam iklan politik ternyata malah memberikan citra buruk. Hal tersebut terlihat dari hasil survei nasional terbaru yang dilakukan Indonesian Research and Development Institute (IRDI) terhadap 2.000 responden di seluruh Indonesia, dari tanggal 6-13 Oktober 2008.
Direktur IRDI Notrida Mandica Nur, saat jumpa pers surnas ketiga, Senin (3/11) di Jakarta, genre iklan kampanye di Indonesia masih merupakan aktualisasi kandidat partai bersangkutan seperti menampilkan kemiskinan dan kekumuhan kelompok masyarakat golongan tidak mampu. Padahal, sebanyak 44,35 persen responden mengatakan tidak setuju iklan kampanye parpol menampilkan gambar-gambar orang miskin.
Iklan kampanye partai politik Partai Demokrat dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dinilai paling baik. Pada peringkat berikutnya diikuti iklan kampanye partai politik Partai Gerakan Indonesia Raya dan Prabowo Subianto, Partai Golkar dan Jusuf Kalla, Sutrisno Bachir, dan Rizal Mallarangeng.
Selain itu, Sebanyak 69 persen responden mengatakan tidak setuju jika iklan kampanye tersebut menonjolkan kelemahan parpol lain. Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Rully Khairul Azwar dalam kesempatan yang sama mengatakan, iklan kampanye yang berlebihan membawa dampak buruk terhadap iklim demokrasi di Indonesia.
"Selama ini, hanya calon kandidat atau kandidat presiden yang memiliki banyak uang saja yang dapat melakukan pencitraan di TV. Hal ini seolah memberi pesan bahwa, jangan harap orang yang tidak punya uang dapat mencalonkan diri," ujarnya.
