JAKARTA , MINGGU – Calon presiden (capres) AS dari Partai Demokrat Barrack Obama dan John McCain dari Partai Republik sedang menanti detik-detik menjelang pilpres 4 November mendatang. Selama masa kampanye, keduanya telah berupaya dengan segala macam cara untuk meraih dukungan sebanyak-banyaknya.
Menurut Guru Besar Linguistik (Emeritus) Prof Dr Benny H Hoed dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, kedua kandidat itu menggunakan beberapa cara mengkomunikasikan program-program politiknya. Tetapi cara yang paling efektif meraih dukungan publik AS yakni perang wacana mengenai kebijakan secara teknis.
“Cara pertama dengan perang wacana lebih efektif diterapkan di sana karena faktor publik AS hampir sebagian besar kelas menengah dengan tingkat pendidikan tinggi. Maka argumentasi mengenai klaim-klaim yang berbeda dilakukan secara frontal dalam bahasa kampanye itu sudah biasa,” ujarnya kepada Kompas.com, Minggu (2/10).
Benny mencontohkan kedua kandidat itu saling menyerang secara langsung dalam kampanye mengenai kebijakan, misalnya persoalan pajak, isu Irak atau program ekonomi lain secara lebih teknis. “Kalau di Indonesia kan tidak seperti itu karena tingkat pendidikan masyarakat kita sebagian besar masih rendah sehingga perang wacana mengenai kebijakan ini jarang diperhatikan oleh calon pemilih kita,” tuturnya.
Ia juga mengatakan di AS juga tidak ada aturan bahwa saling menyerang program atau policy kandidat lain dalam kampanye itu tidak diatur dalam undang-undang. “Di Indonesia, memang diundangkan hal seperti itu, apalagi dengan pertimbangan masyarakat kita mempersepsi program itu sebagai janji politik, tak heran yang dikemukakan para kandidat seputar policy praktis seperti pendidikan murah, ekonomi lebih baik, terbukanya lapangan kerja dan masih banyak lagi,” jelasnya.
Benny menuturkan penggunaan bahasa kampanye yang mudah dicerna dan sederhana lebih ditekankan pada kandidat capres Indonesia, mengingat faktor pendidikan yang kurang memadai untuk menopang publik dalam menerima pesan politik.“Memang ada diskusi-diskusi publik mengenai konsep yang lebih substansial dari kandidat, tetapi biasanya hanya dihadiri oleh kalangan menengah dengan pendidikan yang memadai,” ujarnya.
