LAMONGAN, JUMAT - Hingga saat ini keluarga Amrozi dan Ali Ghufron, terpidana mati bom Bali I belum mendapatkan kepastian kapan eksekusi dilaksanakan. Kakak Amrozi, Ustad Khozin Jumat (31/10) menyatakan sampai Jumat sore belum ada pemberitahuan secara resmi kapan eksekusi dilaksanakan baik dari kejaksaan maupun dari Tim Pembela Muslim.
"Kami sendiri belum ada pemberitahuan. Jadi saya mewakili keluarga tidak bisa memberi komentar apa-apa. Seharusnya keluarga menerima pemberitahuan terlebih dulu," kata Khozin sebelum melaksanakan Shalat Ashar.
Warga Desa Tenggulun juga tenang-tenang saja menyikapi eksekusi Amrozi cs. Mereka beraktivitas seperti biasa ke sawah, menggembala kambing atau mencari rumput untuk sapi mereka. Yang heboh justru kedatangan para wartawan dari berbagai media. Sejumlah televisi bahkan menyiapkan laporan langsung setiap perkembangan yang terjadi dari kampung asal Amrozi dan Ali Ghufron di Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro Kabupaten Lamongan.
Sebelumnya muncul banyak perkiraan heliped untuk menyambut jenazah Amrozi dan Ali Ghufron ada di tiga titik yakni di Dusun Bungo Desa Payaman, Desa Tebluru dan lapangan Desa Bulubrangsi. Kemungkinan besar heliped disiapkan di Desa Bulubrangsi karena dekat dengan akses jalan besar, lapangannya seluas 2 hektar dan jauh dari permukiman warga.
Hal itu diperkuat karena usai shalat Jumat ada tiga unit mobil petugas meninjau lapangan Bulubrangsi. Menurut penjual est batil di pinggir lapangan tersebut banyak orang menyurvei dan melihat-lihat kondisi lapangan. "Tetapi saya kurang perhatian karena tadi melayani banyak pembeli," katanya.
Pengamanan Diperketat
Menjelang eksekusi Amrozi cs pengamanan ke arah Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro diperketat. Polisi memeriksa kendaraan dan pengguna jalan yang lewat di Desa Sawa yang memeriksa mereka yang lewat dari arah karanggeneng, Paciran, Solokuro, Lamongan serta Dukun Gresik di pertigaan Sawo sekitar 8,5 kilometer dari Desa kampung Amrozi. Pemeriksaan juga dilakukan di wilayah Laren Lamongan tepat di Depan Kantor Polsek Laren .
Polisi memeriksa kartu identitas, surat-surat kendaraan, bagasi, kap dan jok mobil serta barang-barang yang dibawa serta saku baju dan celana orang yang lewat. Kepala Bagian Operasional Kepolisian Resor Gresik Komisaris Soedarmo yang siaga di pertigaan Sawo mengatakan sedikitnya ada 50 personel yang dikerahkan dalam razia.
"Selain untuk pengamanan jelang eksekusi ini juga untuk antisipasi ada yang membawa bahan peledak," kata Soedarmo.
Meskipun pihak keluarga menyatakan belum menyiapkan secara khusus soal pemakaman, namun di Tenggulun ada 16 penggali kubur yang siap setiap saat dibutuhkan. Ketua Badan Perwakilan Desa Tenggulun M Aji dan Kepala Desa Tenggulun Abus Sholeh menyebutkan para penggali kubur diambil dari tiap RT dua orang.
Dari delapan RT ada 16 penggali kubur yakni, Kabib, Rahmat, Yatmo, Taham, Sripan, Kartaji, Suryadi, Kaselan, Setu, Munjadi, Karnadi, Muasan, Katiman, Ngnatio, Karno, Kertoaji. Kalau memang nanti jadi dieksekusi dan dimakamkan di pemakaman umum Tengulun ya mungkin teman-teman itu yang menggali. Tetapi kalau keluarga ingin menggali sendiri ya nggak tahu, kata Aji.
Namun para penggali makam itu pun belum mendapatkan pemberitahuan dari keluarga Amrozi. Namun bila ditugasi para penggali kubur itu pun siap melaksanakan tugas. "Kalau diperintah ya siap saja," kata salah seorang penggali kubur, Kertoaji (60).
