Rabu, 1 Oktober 2014

News / Regional

Konversi Lahan Ancam Ketahanan Pangan

Kamis, 30 Oktober 2008 | 23:38 WIB

SLAWI, KAMIS — Konversi atau alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan tidak produktif berpotensi mengancam ketahanan pangan di suatu daerah. Untuk itu, mesti ada upaya pencegahan seperti, pemberian insentif bagi pemilik sawah, perlindungan terhadap komoditas petanian, dan pembatasan izin alih fungsi.

Hal itu dikatakan Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal Toto Subandriyo dalam seminar Hari Pangan Sedunia bertema Ketahanan Pangan, Perubahan Iklim, Bioenergi, dan Kemandirian Petani di Slawi, Kabupaten Tegal, Kamis (30/10).

"Kepemilikan lahan pertanian yang semakin sempit sama saja menghilangkan basis produksi terpenting bagi petani," ujar Toto. Oleh karena itu, pemberian izin konversi lahan tersebut mesti berdasarkan pertimbangan bukan justru dijadikan investasi.

Jangan sampai biaya retribusi izin ini ditargetkan dalam pendapatan asli daerah yang justru memicu b anyaknya lahan pertanian berlih fungsi, katanya. Upaya lainnya, lanjut Toto, pemerintah dapat memberikan insentif dengan cara mengurangi pajak terhadap lahan pertanian. Perlindungan harga komoditas pertanian juga perlu dilakukan untuk mengantisipasi fluktuasi harga.

Toto mencontohkan, terdapat 10 hektar lahan pertanian di Kabupaten Tegal yang beralih fungsi setiap tahunnya. "Pada awal tahun 1980-an masih terdapat 40.000 hektar lahan pertanian, sekarang ini sudah menyusut sekitar 15 persen karena beralih fungsi," ucapnya.

Akibatnya, hasil panen terus menurun. Toto mencontohkan, pada tahun 2005, Kabupaten Tegal dapat menghasilkan 295.000 ton gabah kering giling (GKG), tetapi jumlah ini menurun menjadi 290.000 ton GKG pada tahun 2006.

Selain konversi lahan, Toto menambahkan, terdapat faktor lain seperti iklim, bencana kekeringan, dan serangan hama penyakit yang turut memengaruhi produksi beras.

Untuk mengatrol produktivitas panen, Toto mengakui, mesti ada terobosan seperti upaya peningkatan indeks penanaman dan teknologi budidaya. Seperti pembangunan irigasi pompa di Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal yang mampu mengairi 300 hektar sawah sehingga meningkatkan frekuensi musim tanam dari satu kali menjadi tiga kali dalam setahun, ucap Toto mencontohkan.

 

 


Editor :