JAKARTA, KAMIS - Calon presiden AS dari Partai Demokrat Barack Obama dan John McCain dari Partai Republik masih bersaing menjadi orang nomor satu di AS. Dalam polling terakhir, Obama lebih unggul dari McCain meski peluangnya masih tipis unggul 4-6 digit dari lawannya.
Menurut pengamat politik luar negeri Sabam Siagian, kedua kandidat capres itu tak jauh beda dalam penerapan politik luar negeri ke depan, terutama bagi Indonesia. "Seperti Obama, kepentingan nasional masih akan menjadi titik beratnya, hanya saja pendekatan dan cara yang ditempuh untuk dalam menyelesaikan maslaah-masalah luar negeri akan mengutamakan negosiasi, tawar-menawar dan tidak konservatif seperti pendahulunya Bush," ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (30/10) pagi.
Sedangkan McCain, menurut mantan Dubes RI untuk Australia ini, akan lebih konservatif menyikapi isu-isu internasional dan beraksi keras seperti peta politik partai Republik yang memang sudah bertahun-tahun seperti itu. "Itu kan sudah menjadi budaya kaum Republik, dengan upaya-upaya tekanan dalam politik luar negeri di berbagai kawasan," jelasnya.
Sabam menegaskan secara keseluruhan apabila AS dipimpin Obama akan lebih kritis dan lebih cermat memperhatikan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) maupun isu terorisme. Persoalan, Obama pernah tinggal di Jakarta itu justru ada kelebihan dan kekurangannya.
"Karena dia pernah tinggal di Jakarta, maka dia akan lebih kritis dan obyektif melihat kondisi politik dan sosial disini. Kalau ada isu terorisme di Indonesia yang paling reaksioner mungkin McCain dengan penyelesaian persoalan gaya konservatif seperti Bush, Obama akan lebih menilik latar belakang terjadinya peristiwa teror dan kerjasama dengan Indonesia dalam memberantas terorisme," ujarnya.
Dikatakannya, politik luar negeri AS masih akan tetap konservatif terhadap kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Dalam pidato kampanye Obama sudah jelas menyatakan akan mengutamakan kepentingan nasional AS, meski ia membantah mendukung proteksionisme.
Terkait hal itu, besar kemungkinan Obama akan meninjau ulang setiap perjanjian perdagangan apalagi yang menyangkut ISO. Selain itu, menurut Sabam, faktor pendorong masyarakat AS akan lebih memilih Obama karena tingginya angka penggangguran di AS.
"Harapan publik AS terhadap figur Obama sangat kuat karena diyakini strategi ekonomi lebih unggul dan ini memberi harapan pada kaum pengangguran di AS yang naik drastis karena krisis yang menghantam AS," tuturnya.
Embargo Tak Berpengaruh
Sedangkan mengenai embargo di bidang militer, dikatakan Sabam, tak terlalu berpengaruh dalam hubungan bidang militer antara Indonesia dengan Amerika Serikat. "Mungkin akan ada pengurangan embargo, tapi saya kira kita juga tak perlu persenjataan canggih dari sana. Industri persenjataan dari China India dan Jepang kan sudah bisa mencukupi kebutuhan kemiliteran kita. Jadi embargo dikurangi atau tidak, tak banyak berdampak. Justru kalau diberikan hibah, maka ongkos administrasi malah besar," tuturnya.
Sabam menegaskan, siapapun yang terpilih, posisi kerjasama militer Indonesia akan aman. "Selama ini kan kita tak banyak membeli senjata dari mereka, jadi ketergantungan kita tak terlalu besar. Selain dua kandidat ini memang tidak punya opsi untuk perubahan kebijakan militer," jelasnya.
Bagi WNI yang memiliki hak pilih di AS, dikatakannya, akan lebih cenderung merujuk pada figur Obama, terkait adanya harapan bahwa AS akan lebih terbuka dalam politik luar negerinya apabila dipimpin oleh Obama. "Sikap semena-mena yang selama ini tercermin dalam politik AS akan tereliminir. Setidaknya proses kompromi melalui negosiasi dan dialog itu yang menjadi ciri khas Obama. Ini yang menjadi daya tarik para pemilih kita di sana," tegasnya.
Mengenai peluang kemenangan Obama atas McCain, Sabam yakin figur Obama akan lebih unggul dalam perolehan suara 4 November mendatang. "Kongres AS itu masih didominasi oleh sayap progresif Partai Demokrat maka tak menutup kemungkinan ia lebih mendapat banyak dukungan nantinya," jelasnya.
